08 September 2006
Tips Belajar: Memilih Buku "Lokal"
Memilih buku "lokal"yang bermutu---dalam arti karya anak bangsa sendiri, bukan terjemahan--- tidak selalu mudah. Apalagi bagi mereka yang baru mulai "bergaul" dengan buku dan ingin memastikan pilihannya adalah bacaan bermutu. Ada begitu banyak pilihan dan setiap hari pilihan itu bertambah banyak jumlahnya. Berikut beberapa saran yang perlu diperhatikan agar tak salah menjatuhkan pilihan.
Pertama, kenali minat Anda. Fiksi atau nonfiksi? Ilmiah akademis atau ilmiah populer? Filsafat, teologia, agama, ekonomi, politik, sosial, budaya, pemasaran, pengembangan diri, psikologi, sosiologi, manajemen, atau apa?
Kedua, perhatikan pengarangnya. Setiap bidang kajian, baik bersifat informatif, edukatif, atau pun rekreatif, memiliki pakarnya masing-masing. Mereka biasanya dikenal karena publikasi yang luas di media cetak maupun elektronik. Nama pengarang tertentu dapat memberikan gambaran minimum tentang mutu karyanya.
Ketiga, perhatikan penerbitnya. Hal ini penting terutama bila kita tidak mengenal pengarang terkemuka di bidang yang kita minati. Pilih saja penerbit buku terkemuka yang umumnya selektif menerbitkan karya penulis, mengingat mereka ikut mempertaruhkan nama besarnya dengan menerbitkan jenis buku tertentu.
Keempat, perhatikan judulnya. Pengarang yang baik tidak akan memberikan judul sembarangan. Dan judul yang baik seharusnya mewakili pesan-pesan pokok yang ingin disampaikan oleh penulisnya, terutama untuk buku nonfiksi.
Kelima, bacalah sinopsis atau komentar tentang buku tersebut. Umumnya sebuah buku yang baik memuat sinopsis atau komentar para pakar dibidang terkait. Sinopsis dan komentar ini umumnya ditampilkan pada cover belakang buku tersebut. Apakah semua itu menggugah minat untuk mengetahuinya lebih jauh?
Keenam, pertimbangkan harganya. Sebuah buku dengan berbagai macam format ukuran dijual dengan harga yang bermacam-macam. Umumnya untuk menilai apakah harga jual sebuah buku itu mahal atau tidak, dapat diperhitungkan tebal buku, ukurannya, dan harganya.
Dan sebagai parameter minimum untuk buku-buku "lokal", harga jual yang rasional biasanya sekitar Rp 80,00-Rp 120,00 per halaman. Misalnya, buku dengan format yang bagaimanapun kalau tebalnya 280 halaman (xxxvi hlm + 244 hlm isi), maka harganya sekitar Rp 22.400,00--Rp 33.600,00 per eksemplar. Ini dengan kondisi harga kertas tahun 2000. Kalau ukurannya saku, tentunya bisa lebih murah.
Ketujuh, lihat cetakan ke berapa. Buku tertentu disebut-sebut sebagai buku terlaris (best seller books). Artinya, terlepas dari soal mutu isinya, buku itu banyak dibeli orang. Kebanyakan buku nonfiksi dicetak sekitar 3.000 eksemplar pada awalnya. Dan untuk konteks Indonesia, jika cetakan pertama itu habis sebelum 3 bulan, maka itu termasuk buku laris.
Kedelapan, lihat daftar isinya. Kebanyakan buku yang diterbitkan penerbit terkemuka dibungkus plastik yang membuat kita sulit melihat daftar isinya. Namun toko buku yang baik biasanya menyediakan 1-2 eksemplar yang tak terbungkus, sehingga calon pembeli yang berminat dapat lebih dulu melihat daftar isinya untuk mengetahui apakah hal itu berkesesuaian dengan minatnya.
Kesembilan, sangat baik bila kita berkesempatan membaca lebih dulu resensi buku yang kita minati. Sebagian majalah mingguan dan koran edisi minggu selalu menampilkan rubrik pustaka, timbangan buku, resensi, atau sejenisnya. Hal ini dapat membantu kita menyeleksi bacaan agar mendapatkan yang bermutu.
Kesepuluh, mintalah saran dari para pencinta buku yang kita kenal. Masukan dari mereka umumnya berharga untuk dipertimbangkan.
Memang, semua saran di atas tidak memberikan jaminan 100 persen. Namun tidak berarti tidak berguna sama sekali, bukan?
09:54 Posted in Referensi Buku | Permalink | Comments (0) | Email this
24 March 2006
Shariah Principle on Management in Practice

10:05 Posted in Referensi Buku | Permalink | Comments (0) | Email this
23 March 2006
The Attractor Factor: 5 Langkah Untuk Mewujudkan Kekayaan Yang Anda Idamkan
The Attractor Factor: 5 Langkah Untuk Mewujudkan Kekayaan Yang Anda Idamkan
Buku yang pada mulanya merupakan buklet kecil berjudul Spiritual Marketing ini dikembangkan ke dalam bentuk buku karena permintaan para pembacanya yang merasa impian mereka tercapai setelah menerapkan 5 langkah sederhana Joe Vitale (Bab “Bukti”, hal. 9).
Walau dalam buku ini ada kisah tentang orang-orang yang mendapat mobil dan rumah, menyembuhkan diri dari kanker, menjalin hubungan baru, dan menarik lebih banyak uang, Vitale berfokus pada menarik kekayaan dalam bisnis karena, menurutnya, terdapat kekurangan spiritual yang serius di dunia bisnis. Untuk mengukur tingkat kesadaran kemakmuran pembaca, ia memberikan daftar pertanyaan ya/tidak pengukur IQ Kemakmuran (Bab “Berapa IQ Kemakmuran Anda?”, hal. 61). Beberapa di antara ke-15 pertanyaan itu adalah:
1. Saat tumbuh dewasa, pernahkah Anda diberi tahu hal-hal seperti, “Kita mungkin tidak kaya, tapi setidaknya kita jujur!”?
2. Apakah pendidikan religius Anda mengajarkan bahwa sangatlah mulia untuk berkorban saat ini, dan bahwa Anda akan mendapatkan ganjarannya di akhirat?
3. Apakah Anda dibesarkan untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan dan tidak untuk melakukan sesuatu yang berbeda?
4. Apakah Anda pernah iri pada orang yang memiliki baju-baju mahal, mobil mewah, dan rumah megah—yang mungkin telah membuat Anda mengembangkan mentalitas bawah sadar ”membenci orang kaya”?
5. Apakah Anda memiliki hubungan yang stabil, uang yang dapat mencukupi kebutuhan Anda, dan kesehatan yang cukup baik namun Anda merasa bahwa kehidupan Anda hanya begitu-begitu saja?
Dan menurut Vitale:
Jika Anda menjawab ”Ya” untuk tiga atau lebih pertanyaan: Anda tahu bahwa ada yang kurang dalam kehidupan Anda, namun mungkin Anda tidak tahu apa itu.
Kemudian ia memaparkan ke-5 langkahnya dalam menarik kemakmuran yang diinginkan (hal. 65 – 192)
1. Papan Loncat
2. Berani Melakukan yang Berarti
3. Rahasia yang Hilang
4. Me-Nevill-kan Tujuan Anda
5. Rahasia Terpenting
09:33 Posted in Referensi Buku | Permalink | Comments (1) | Email this


