24 March 2006

4 Hal yang Membuat Hidup Ini Makin Indah

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakaatuh,

Allah Maha Indah dan amat mencintai keindahan. Berarti siapapun yang rindu menjadi orang yang dicintai Allah kita harus mengenal apa yang namanya keindahan, karena keindahan adalah salah satu jalan agar kita dicintai oleh Allah.

Dan standar, kita itu suka pada keindahan. Allah menciptakan dunia ini indah bahkan surga saja diceritakan penuh keindahan. Memang sudah standar pada diri kita senang yang indah. Lalu mengapa hati yang cuma satu-satunya ini harus kita isi dengan kejelekan?

Jelek itu tidak pernah bersatu dengan keindahan. Kalau alam ini indah dan hati kita mencintai keindahan, niscaya akan terpancar pribadi yang indah.

Saudara-sadaraku sekalian.......

Harusnya keindahan semua yang kita lihat membuat hati kita indah dan kalau hati sudah indah maka terpancar keindahan dari diri kita. Nah, Rasulullah SAW juga ternyata indah. Rambutnya indah, matanya indah, suaranya indah, wajahnya indah dan yang paling mengesankan adalah pribadinya yang indah.

Kita manusia juga senang keindahan. Iklan sampo dijamin yang punya rambut indah. Kita berkunjung ke taman yang indah. Jarang kita berkunjung ke tempat pembuangan sampah.

Yang jadi masalah sekarang bagaimana keindahan itu ada pada diri kita?

Keindahan itu lekat dengan sesuatu yang bersih. Rumah megah, kotor hilang keindahannya. Rambut indah, kotor juga hilang keindahannya. Bersih bagian terpenting dari keindahan. Bersih lahir dan bersih batin. Ada orang yang bersih tapi hatinya busuk dijamin tidak akan indah. Maka siapapun yang ingin tampil indah, perkataan yang harus selalu ditanyakan, saya bersih atau tidak?

Karena kalau hati sudah busuk, pikiran busuk dan omongan juga busuk.

Kita semua pasti jadi tua. Kalau kita mengandalkan kecantikan keindahan lahir, itu tidak bisa dipertahankan. Kalau pertahanan keindahan sudah habis dan pribadi tidak indah maka tidak ada yang tersisa. Jadi siapapun diantara kita yang tidak pernah bertanya apakah mata ini sudah bersih, apakah pikiran kita sudah bersih, apakah pembicaraan kita bersih, apakah harta kita sudah bersih, apakah hati kita sudah bersih ? Kalau bersih belum menempati bagian dari diri kita tipis harapan.

"Amat beruntung orang yang gigih mensucikan dirinya dan merugi orang yang mengotorinya".

Sekarang kita lihat dulu apa komponen yang penting dari keindahan dan kebersihan ini.

1. KESABARAN

Orang yang tidak sabar, berkeluh kesah, menggerutu, orang yang mudah panik, emosional akan hilang keindahannya."Orang yang jamin sabar itu adalah orang yang yakin kami milik Allah dan bakal kembali kepada Allah". Kita tidak punya apa-apa Insya Allah adalah indah. Berarti orang yang tdak akan indah dalam hidupnya, orang yang merasa segalanya milik dirinya, merasa takut kehilangan, merasa takut rusak, takut diambil...panik dalam hidupnya.

Marilah belajar sabar karena sabat pangkal keindahan. Sabar dalam hal apa? Sabar dalam taat kepada Allah. Shalat sabat, tahajud sabar, melihat maksiat sabar. Ada orang yang dalam sholat sabar tapi lihat maksiat tidak sabar. Sabar ketika ditimpa musibah, sabar ketika sakit, tidak berkeluh kesah. Kesabaran itu pada pukulan pertama dalam ujian. Jadi kalau kita ingin melihat kesabaran kita lihat ketika datang yang pertama hantaman kepada kita dan kita tetap tenang. Insya Allah kesananya lebih mantap. Pendek kata keindahan akrab dekat dengan kesabaran. Tidak punya kesabaran hilang keindahan penampilan, keindahan rupa, keindahan rumah, keindahan harta bagi orang yang tidak sabar.

2. KELEMBUTAN

Kelembutan ada pada sesuatu akan menjadi indah. Maka bagi orang-orang yang ingin dicintai Allah, pertanyaan kedua adalah sampai sejauh mana kelembutan ada pada diri kita?

Orang yang kasar, bengis, kaku, keras ini tidak nyunnah. Rasulullah SAW adalah seorang petarung terbaik. Tidaklah bertempur kecuali beliau berada di baris terdepan. Tapi peperangan dan pertempuran yang dahsyat tidak merubah kehalusan budi pekertinya. Guru yang kasar jauh tidak disukai dibanding guru yang bertutur kata lembut. Ibu yang bengis, kasar sulit untuk mencuri hati anaknya.

Saudara-saudara sekalian...

Kita punya bahan yang lembut tapi kasar yang keluarnya, hilang keindahannya. Seindah apapun penampilan bila prilaku kesehariannya, kelakuannya kasar, kata-katanya kasar akan jatuh wibawanya, jatuh keindahannya. Ingat 2 minggu yang lalu pendamping diam itu emas adalah 4 S yaitu :

1. Senyum

2. Salam

3. Sapa, dan

4. Santun

Marilah kita upayakan kelembutan itu bagian dari sikap kita. Kalau memanggil seserorang, panggilah dengan panggilan yang paling halus. Subhanallah, kelembutan itu indah.

3. IKHLAS

Makin ikhlas, makin bersih hati, makin putus harapan selain kepada Allah SWT. Itu terpancar kebersihannya dari tutur kata dan prilaku. Indah keikhlasan itu. Makin bersih dari rasa ingin dihormati, dari rasa ingin dihargai, dari rasa ingin dipuji harus dengan cara terbaik.

Berbahagialah bagi ibu yang merdeka tidak berbuat kebaikan karena ingin dibalas budi oleh suami tapi berbuat kebaikan karena ingin dicintai Allah.

Orang yang ikhlas berbuat sekecil apapun kebaikan, Allah yang akan membersar-besarkannya, menurut Imam Ali. Insya Allah orang yang ikhlas dia akan puas dengan apa yang dilakukan, bukan puas dengan apa yang didapatkan. Orang yang ikhlas kesibukannya adalah bagaimana supaya yang dilakukan ini disukai Allah, terlepas dari orang lain menghargai atau memuji atau tidak.

4. MENGAMALKAN SUNNAH

Keindahan itu lekat kepada orang yang paling banyak mengamalkan sunnah-sunnah rasul sesudah yang fardhu. Amalan fardhu itu bagai bangunan yang kokoh, tiang, pondasi dan bangunan. Tapi bangunan ini jadi indah sesudah dicat, keramiknya bersih, pakai taman, pakai pagar, inilah amalan-amalan sunnah. Kita menunaikan yang fardhu Insya Allah kita menjadi pribadi yang kokoh tapi dengan amalan yang sunnah jadi pribadi yang kokoh dan indah. Jarang sholat tapi mengamalkan yang sunnah seperti pakai dasi tapi tidak pakai yang fardhu.

Jadi semakin banyak kita mengamalkan yang sunnah sesudah yang fardhu semakin indah. Makanya kita harus belajar tahu bagaimana Nabi Muhammad itu kesehariannya. Sampai hal yang kecil kita tiru Nabi Muhammad itu lambat laun pribadi kita jadi indah. Dari mulai bangun tidur senyum, doa, tata mulai bangun tidur. Dikamar mandi tidak berlama-lama, tidak bicara, itu sunnah.

Tertib sampai hal-hal yang paling kecil. Sudah ada aturannya semua.

Mulai sekarang miliki buku tentang Nabi Muhammad. Luangkan waktu untuk mengetahui bagaimana senyumnya, bagaimana santunnya, bagaimana kedermawanannya, bagaimana keberaniannya. Makin tahu tentang Nabi Muhammad pelan tapi pasti pribadi kita akan bergerak menjadi pribadi yang indah.

Mudah-mudahan dengan 4 hal tersebut, kita mulai memperindah topeng kita dengan kebersihan, kerapihan dan perawatan. Tapi yang paling penting dari itu kebersihan batin kita yaitu komponennya kesabaran, kelembutan, ikhlas dan mengamalkan yang sunnah sesudah fardhu.Wallahu'alam Mahabenar Allah, yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.

Semoga bermanfaat

"Utamakan SELAMAT dan SEHAT untuk duniamu, Utamakan SHOLAT dan ZAKAT untuk akhiratmu"

K.H Abdullah Gymnastiar / Aa Gym

BelajarBisnisSyar'i

Profesi Mulia yang Ditinggalkan Wanita


Imbalannya surga, dan penentu masa depan bangsa. Tapi mengapa banyak ditinggalkan perempuan-perempuan modern?

Urusan domestik, hingga saat ini masih menjadi cibiran orang. Pekerjaan urusan teknis kerumah-tanggaan ini hanya dianggap sepele dan dipandang sebelah mata saja oleh hampir seluruh lapisan masyarakat. Itu sebabnya kaum feminis memperjuangkan agar kaum wanita tidak dikaplingkan untuk urusan domestik saja. Kelompok ini sangat menginginkan peningkatan harkat dan martabat kaum wanita agar sejajar sebagai mitra kaum laki-laki.

Yang mereka definisikan sebagai peningkatan harkat dan martabat wanita itu, satu diantaranya adalah pembebasan kaum wanita dari pengkotakan peran sebagai ibu rumah tangga. Menurut mereka, peran tersebut memberikan citra rendah pada diri wanita, sehingga untuk mengangkat citra dirinya, mereka menuntut untuk lepas dari tanggung jawab yang dianggap memalukan itu.

Dianggap memalukan, salah satunya karena pekerjaan urusan domestik tersebut tidak menghasilkan pemasukan keuangan, padahal selama ini umumnya seseorang dihargai sesuai prestasinya dalam mengumpulkan uang. Apalagi secara sepintas, urusan domestik tersebut hanya berupa kegiatan teknis kasar dan kotor, sehingga tak pantas dikerjakan oleh orang terhormat.

Kewajiban siapa?

Opini yang berkembang di tengah masyarakat tentang citra buruk dan rendah dari pekerjaan urusan domestik ini, menjadi penyebab dari enggannya para wanita terpelajar untuk mengakuinya sebagai kewajibannya. Dan dengan berdalih dasar teori peran ganda suami, mereka menuntut agar bisa melepaskan diri dari tanggung jawab domestik tersebut.

Secara bijak, Islam sudah pula menyinggung permasalahan ini dalam pedoman hidup al-Qur'an dan al-Hadits. Abdul Halim Abu Syuqqah, menyebutkan dalam bukunya, Tahrirul Mar-ah fi `Ashir Risalah, bahwa seorang wanita berkewajiban mengurus rumah tangga dan anak-anaknya sebaik mungkin. Dengan demikian kegiatan profesi tidak boleh sampai menghalanginya melaksanakan tanggung jawab ini.

Dari Abdullah bin Umar ra dikatakan bahwa Rasulullah saw bersabda, "....dan seorang istri adalah pemimpin bagi rumah suami dan anak-anaknya, dan dia akan dimintai pertanggungjawaban tentang mereka......" (HR Bukhari Muslim)

Dari Abu Hurairah dikatakan bahwa Rasulullah bersabda, "Sebaik-baik wanita yang mengendarai unta adalah wanita Quraisy". Dalam riwayat lain disebutkan, "Wanita Quraisy yang saleh adalah wanita yang sangat menyayangi anaknya yang masih kecil dan sangat menjaga suaminya dalam soal miliknya." (HR Bukhari)

Jelas, posisi kaum ibu adalah sebagai 'pemimpin bagi rumah suami' dan 'pemimpin anak-anak'. Kalau orang sekarang kerap menyebut istilah pemimpin dengan sebutan direktur atau manajer, maka tak salah pula jika profesi ibu di rumah pun disebut sebagai manajer rumah tangga. Ruang lingkup tugasnya adalah memelihara rumah dan harta yang ada di dalamnya, dan merawat anak-anak. Tentu saja, urusan domestik ada di dalamnya. Kelak, kaum ibu akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah swt tentang kepemimpinannya itu.

Dalam pandangan Islam, urusan domestik keluarga memiliki peran dan fungsi yang penting dan terhormat dalam mendukung kesuksesan keluarga. Begitu hebatnya Islam menjunjung tinggi pekerjaan ini, hingga menyamakan derajatnya dengan kewajiban pergi berperang bagi kaum laki-laki, yang menjanjikan syahid bagi mereka.

Anas bin Malik menceritakan sebuah kisah, "Satu hari beberapa wanita mendatangi Rasulullah saw dan bertanya, "Ya Rasulullah. Kaum lelaki kembali dengan membawa pahala perjuangan di jalan Allah; sedang kami tidak mempunyai cara untuk dapat seperti mereka?" Mendengar ini beliau pun bersabda: "Jangan takut, tenanglah kalian! Mengurus rumah tangga kalian masing-masing dengan sungguh-sungguh dapat mengejar pahala syahid di jalan Alah seperti mereka."

Walaupun pekerjaan domestik ini tak memberikan penghasilan secara langsung, tetapi memberikan manfaat sangat besar bagi seluruh anggota keluarga. Rumah yang bersih, sehat, rapi, indah dan nyaman ditinggali, tak mungkin tercipta tanpa dukungan keahlian urusan domestik. Dari surga dunia inilah muncul ide-ide brilyan dari seluruh anggota keluarga tersebut dalam bidang masing-masing. Ayah menemukan semangat bekerja dari kenyamanan tidur dan istirahatnya di rumah. Anak-anak pun menemukan keriangannya bermain dan belajar dari suasana rumah yang ditata bersih dan menyenangkan. Anda yang ingin lebih menyelami makna pentingnya urusan domestik ini, cobalah untuk berhenti satu atau dua hari saja untuk tidak menyapu dan mengepel rumah, tidak mencuci dan menyeterika baju, serta tidak memasak di dapur. Bagaimana jadinya keluarga Anda?

Satu poin lagi untuk urusan domestik yang kerap dianggap sepele, adalah merawat dan mendidik anak. Salah sama sekali jika menganggap ini hal yang mudah dan remeh. Sebuah anggukan wajah, atau sekedar senyumam di ujung bibir, juga belaian tangan ibu di pundak anak, ternyata sangat menentukan bagi puluhan ribu hari berikutnya yang masih harus ia lewati. Satu detik keikhlasan ibu merawat anak, bisa menjadi bibit keuntungan jutaan rupiah yang kelak didapatkan anak dari kesuksesannya setelah dewasa.

Beratnya beban urusan domestik ini, nampaknya seimbang dengan janji syahid yang diberikan oleh Allah swt kepada kaum ibu yang menunaikannya dengan baik. Pekerjaan ini bisa menjadi salah satu alternatif tercepat memperoleh surga bagi mereka. Begitu mulianya pekerjaan ini sehingga Rasulullah memberikan dorongan penuh kepada putri tercintanya, Fatimah ra, untuk tidak meninggalkan peran ini, walau seberat apapun beban yang harus
ditanggungnya.

Fatimah sang putri, yang bersuamikan Ali bin Abi Thalib, hidup dalam keadaan miskin, sehingga ia harus membanting tulang untuk mengerjakan semua pekerjaan rumah tangga. Diriwayatkan Abu Daud bagaimana Ali mengisahkan tentang istrinya ini, "Suatu ketika Fatimah putri Nabi saw berada di dekatku. Dia memutar gilingan hingga lecet tangannya, dia memanggul girbah air hingga lecet pundaknya, dan dia menyapu rumah hingga berdebu pakaiannya." Dalam riwayat Abu Daud yang lain ditambahkan; "Fatimah membuat roti sehingga warna mukanya berubah (terkena arang)."

Suatu ketika Ali mendesak istrinya untuk memohon kepada ayahandanya agar diberi bantuan seorang hamba yang diperoleh Rasulullah saw sebagai hasil jarahan perang, demi meringankan pekerjaan-pekerjaannya. Namun Rasulullah menolak permintaan putri tercintanya itu, sambil membesarkan hati Fatimah dan Ali dengan mengatakan, "Maukah kalian aku beritahu mengenai sesuatu yang lebih baik dari yang kalian minta? Apabila kalian sudah siap di tempat tidur kalian, maka hendaklah kalian baca tasbih tiga puluh tiga kali, tahmid tiga puluh tiga kali, dan takbir tiga puluh empat kali. Hal itu lebih baik buat kalian dari pada seorang pelayan." (HR Bukhari dan Muslim).

Rupanya beliau menginginkan Fatimah memperoleh surganya dengan melalui ujian dalam rumah tangganya tersebut.

Apa Kewajiban Suami?

Suami telah diberi amanah oleh Allah untuk menjadi pemimpin keluarga (An Nisa' 24). Agar kewajiban itu dapat terlaksana, maka istri sebagai anggota keluarga wajib mendukung kewajiban suami tersebut. Bagaimana caranya memberi dukungan? Yaitu dengan memberikan ketaatannya kepada sang pemimpin keluarga. Untuk mempertegas hal tersebut, melalui beragam haditsnya, Rasulullah telah mempertegas kewajiban istri untuk taat kepada suami. Semua itu diatur agar kepemimpinan suami bisa terlaksana dengan baik. Dianalogikan dengan keseimbangan tersebut, maka jika ternyata istri mengemban kewajiban menjadi manajer rumah tangga yang mengurus anak dan urusan domestik rumah tangga, maka suami pun wajib pula mendukungnya. Sama persis seperti dukungan yang diberikan istri untuk taat kepadanya, dalam rangka mendukung kewajibannya sebagai pemimpin keluarga. Lantas, bagaimana bentuk dukungan yang wajib diberikan suami untuk menyukseskan tugas istri dalam menangani urusan domestik?

Yaitu, dengan menyediakan fasilitas yang dibutuhkan istri dalam melaksanakan tugasnya tersebut. Kewajiban suamilah untuk mencukupi fasilitas tersebut, sesuai dengan kemampuannya dalam mencari nafkah. Keberadaan fasilitas seperti mesin cuci, almari es dan kompor gas, misalnya, tentu saja akan sangat membantu meringankan pekerjaan urusan domestik. Atau dengan menggaji orang yang membantu meringankan pekerjaan teknis operasional rumah tangga sehari-hari. Semakin banyak fasilitas bisa diberikan tentu lebih baik, karena akan meringankan beban istri, sehingga istri bisa memiliki waktu dan tenaga lebih banyak untuk bisa dipergunakan menangani pekerjaan-pekerjaan lain baik untuk keluarga ataupun untuk ummat.

Rasulullah saw sendiri menyediakan pelayan khusus untuk mengatur urusan kerumahtanggaan istri-istri beliau. Sementara masing-masing istri pun memiliki pula budak-budak perempuan yang senantiasa menemani dan memberikan bantuan. Hal ini membuat Aisyah ra bisa meluangkan waktu untuk mempelajari berbagai sisi keilmuan dan melayani kebutuhan kaum muslimah sehingga nantinya ia menjadi ahli hadits dan menjadi guru dari banyak sahabat. Istri Rasulullah saw yang lain, seperti Hafshah, sempat mempelajari keahlian menulis kaligrafi, sementara Zainab berkonsentrasi membuka usaha ketrampilan tangan di rumahnya sehingga bisa memperoleh penghasilan sendiri.

Lantas bagaimana jika nafkah yang diperoleh suami tak mencukupi untuk memberikan fasilitas tersebut? Tak mengapa, karena banyaknya fasilitas tak bisa ditetapkan dengan standar tertentu. Semuanya tergantung dari perolehan penghasilan masing-masing keluarga. Jika memang rejeki keluarga tersebut sedikit, maka suami wajib mendukung tugas istri dengan memberikan bantuan langsung.

Rasulullah saw memberi contoh dengan sesekali mengurus sendiri keperluan-keperluannya. Beliau menjahit sendiri baju-baju yang sobek. Tentang bantuan itu, Aisyah berkata, "Beliau yang menjahit kainnya, menjahit sepatunya, dan mengerjakan apa yang biasa dikerjakan oleh kaum laki-laki di rumah mereka." (HR Bukhari)

Dari al-Aswad, dia berkata, "Aku pernah bertanya kepada Aisyah mengenai apa yang dilakukan oleh Nabi saw di rumah beliau." Aisyah mengatakan, "Beliau biasanya suka membantu urusan keluarganya. Lalu bila waktu shalat tiba, beliau pergi untuk mengerjakan shalat." (HR Bukhari)

Artikel lain dapat anda jumpai di Belajar Bisnis Sesuai Syariah