23 March 2006

Children Of Heaven

Ali Mandegar adalah seorang anak dari keluarga miskin, namun cerdas dan rajin membantu kedua orang tuanya. Suatu hari Ali berbelanja ke toko setelah mengambil sepatu adiknya, Zahra yang baru selesai diperbaiki. Di toko, tanpa sengaja sepatu itu terambil oleh seorang pemulung. Ali dan Zahra sangat sedih kehilangan sepatu itu.

Sebagai pertanggungjawabannya, Ali memberikan sepatunya untuk dipakai Zahra bersekolah di pagi hari, lalu bergantian ia memakainya untuk bersekolah di siang hari. Ini mengakibatkan Ali sering terlambat masuk sekolah dan mendapat masalah. Suatu hari diadakan perlombaan lari jarak jauh antar sekolah dengan hadiah ketiga berupa sepatu olah raga. Ali sangat bersemangat untuk mengikuti perlombaan ini. Namun ia terlambat mengikuti pendaftaran tes perhituangan kecepatan lari di sekolahnya. Ia berusaha membujuk guru olah raganya agar diizinkan mengikuti perlombaan ini, karena ia sangat membutuhkan sepatuitu, yang rencananya akan ditukar dengan sepatu wanita, untuk diberikan kepada Zahra, adiknya tercinta.

Bisakah Ali mengikuti perlombaan ini? Apakah ia akan mendapatkah hadiah ketiga berupa sepatu olah raga tersebut? Amir Farrokh Hashemian berperan prima sebagai Ali Mandegar dalam drama menyentuh karya Majid Majidi yang memenangkan berbagai penghargaan internasional, antara lain Montreal World Film Festival, Newport Internasional Film Festival, dan Silver Screen Awards di Singapore Internasional Film Festival, serta masuk nominasi Piala Oscar pada Academi Awards 1999 untuk Best Foreign Language Film.

13:30 Posted in Film | Permalink | Comments (0) | Email this

Candi Muara Takus

Lokasi : Kecamatan XIII Koto
Kabupaten : Kampar

Kompleks candi ini terletak di desa Muara Takus, Kecamatan XIII Koto Kampar atau jaraknya kurang lebih 135 kilometer dari Kota Pekanbaru. Jarak antara kompleks candi ini dengan pusat desa Muara Takus sekitar 2,5 kilometer dan tak jauh dari pinggir sungai Kampar Kanan.

Kompleks candi ini dikelilingi tembok berukuran 74 x 74 meter diluar arealnya terdapat pula tembok tanah berukuran 1,5 x 1,5 kilometer yang mengelilingi kompleks ini sampal ke pinggir sungai Kampar Kanan. Di dalam kompleks ini terdapat pula bangunan candi Tua, candi Bungsu dan Mahligai Stupa serta Palangka. Bahan bangunan candi terdiri dari : batu pasir, batu sungai dan. batu bata. Menurut sumber tempatan, batu bata untuk bangunan ini dibuat di desa Pongkai, sebuah desa yang terletak di sebelah hilir kompleks candi. Bekas galian tanah untuk batu bata itu sampai saat ini dianggap sebagai tempat yang sangat dihormati penduduk. Untuk membawa batu bata ke tempat candi, dilakukan secara beranting dari tangan ke tangan. Cerita ini walaupun belum pasti kebenarannya memberikan gambaran bahwa pembangunan candi itu secara bergotong royong dan dilakukan oleh orang ramai.

Selain dari candi Tua, candi Bungsu, Mahligai Stupa dan Palangka, di dalam kompleks candi ini ditemukan pula gundukan yang diperkirakan sebagai tempat pembakaran tulang manusia. Diluar kompleks ini terdapat pula bangunan-bangunan (bekas) yang terbuat dari batu bata, yang belum dapat dipastikan jenis bangunannya.

Kompleks candi Muara Takus, satu-satunya peninggalan sejarah yang berbentuk candi di Riau. Candi yang bersifat budhistis ini merupakan bukti pernahnya agama Budha berkembang di kawasan ini beberapa abad yang silam. Kendatipun demikian, para pakar purbakala belum dapat menentukan secara pasti kapan candi ini didirikan. Ada yang mengatakan abad kesebelas, ada yang mengatakan abad keempat, abad ketujuh, abad kesembilan dan sebagainya. Tapi jelas kompleks candi ini merupakan peninggalan sejarah masa silam.

Bandung Lautan Belanja

Bandung, siapa yang tak kenal dengan jantung Jawa Barat ini. Sejak Gubernur Jenderal Hindia Belanda Herman Willem Daendels menancapkan tongkatnya di pinggir Sungai Cikapundung, Kota Bandung dikenal sebagai tempat peristirahatan. Para petinggi di Nusantara kala itu kerap menghabiskan waktu di kawasan berudara sejuk ini. Bahkan, Parijs van Java atau Paris-nya Pulau Jawa melekat di kota yang berulang tahun pada 25 September itu.

Jika Daendels kembali kini, ia pasti kagum. Cita-citanya untuk membangun sebuah kota sudah terwujud. Lokasi di mana tongkatnya menancap pada 1810, kini menjadi titik pusat atau Kilometer 0 Kota Bandung, tepat di seberang Alun-alun Kota. Wilayah seluas 16.767 hektare ini bahkan menjadi salah satu kota terbesar di Indonesia.

Mulut Daendels pasti kembali menganga. Betapa tidak, Bandung berkembang sangat pesat meski pernah dibumihanguskan pada 24 Maret 1946. Tak hanya itu, landmark kota yakni Gedung Sate atau Gouverments Bedrijven kini tak sendiri. Jembatan Pasupati yang menghubungkan Bandung Utara dan Timur melewati lembah Cikapundung ikut menjadi kebanggaan warga Kota Kembang.

Dunia wisata pun tak kalah bergeliat. Selain menyuguhkan keindahan alam, Bandung menawarkan wisata belanja yang tak bisa dijumpai di kota lain di Tanah Air. Apalagi buat pencinta dunia fashion. Beragam busana dengan tren mutakhir bisa didapat di berbagai factory outlet (FO) yang menjamur di pelosok Bandung. Selain itu, harga yang ditawarkan pun cukup menggiurkan. Maklum, barang yang ditawarkan diklaim langsung dikirim dari pabrik.

Saat ini tak kurang 200 FO berdiri di Kota Bandung. Uniknya, FO-FO ini memberikan pelayanan dengan tema yang beragam. Ada FO yang khusus membidik konsumen remaja, anak-anak, termasuk FO khusus lelaki atau pakaian dalam. Sebagian besar, toko pakaian ini berada di kawasan Bandung Tengah, yakni Jalan R.E. Martadinata, Jalan Aceh, dan Jalan Sumatera. Tempat sejenis bisa ditemui dengan mudah di kawasan Bandung Utara seperti Jalan Ir. H. Juanda (Dago) dan Jalan Dr. Setiabudhi.

Berbelanja di FO jelas berbeda dibanding membeli di toko-toko pakaian biasa. Selain murah, model pakaian yang ditawarkan sangat terbatas. Jadi kecil kemungkinan ada orang yang memakai pakaian serupa alias tak bakal pasaran. Suasana FO yang menyenangkan pun bisa menjadi penawar ketegangan urat syaraf setelah seharian beraktivitas.

Tak hanya di FO, pakaian murah tapi keren juga bisa ditemukan di Cimol. Pasar kaki lima ini menawarkan berbagai jenis pakaian sisa ekspor mulai dari kaos, celana jins, hingga jaket. Harganya jangan ditanya. Sepotong celana blue jeans bisa dibawa pulang hanya dengan membayar Rp 5 ribu sampai Rp 10 ribu. Tentu saja setelah adu tawar yang cukup seru.

Sesuai namanya, Cimol atau Cibadak Mol--plesetan dari mall--semula berada di Jalan Cibadak, tak jauh dari Alun-alun Kota. Namun, kawasan tersebut ditertibkan Pemerintah Kota Bandung. Cimol dipindah ke kawasan Kebon Kalapa. Cimol kembali digeser ke kawasan Tegallega sebelum akhirnya direlokasi ke Gedebage.

Tak hanya pakaian, jajan makanan khas Bandung sangat sayang dilewatkan. Gurihnya siomay hingga baso tahu goreng (batagor) wajib mampir di lidah jika berkunjung ke Bandung. Kesegaran yoghurt pun bisa dinikmati sambil menghirup kesegaran udara Lembang. Jagung bakar pun siap menemani wisatawan melewati malam yang indah di Kota Bandung.

Pakaian dengan mode terkini ada di tangan. Perut pun sudah terisi. Oleh-oleh penganan juga berjibun. Pengalaman di Bandung yang eksentrik menjadi kenangan tak terlupakan. Daendels pun mungkin tersenyum saat melaju di Tol Cipularang meninggalkan Kota Bandung kembali ke Batavia yang kini bisa ditempuh hanya dalam 2,5 jam