24 March 2006
Profesi Mulia yang Ditinggalkan Wanita
Imbalannya surga, dan penentu masa depan bangsa. Tapi mengapa banyak ditinggalkan perempuan-perempuan modern?
Urusan domestik, hingga saat ini masih menjadi cibiran orang. Pekerjaan urusan teknis kerumah-tanggaan ini hanya dianggap sepele dan dipandang sebelah mata saja oleh hampir seluruh lapisan masyarakat. Itu sebabnya kaum feminis memperjuangkan agar kaum wanita tidak dikaplingkan untuk urusan domestik saja. Kelompok ini sangat menginginkan peningkatan harkat dan martabat kaum wanita agar sejajar sebagai mitra kaum laki-laki.
Yang mereka definisikan sebagai peningkatan harkat dan martabat wanita itu, satu diantaranya adalah pembebasan kaum wanita dari pengkotakan peran sebagai ibu rumah tangga. Menurut mereka, peran tersebut memberikan citra rendah pada diri wanita, sehingga untuk mengangkat citra dirinya, mereka menuntut untuk lepas dari tanggung jawab yang dianggap memalukan itu.
Dianggap memalukan, salah satunya karena pekerjaan urusan domestik tersebut tidak menghasilkan pemasukan keuangan, padahal selama ini umumnya seseorang dihargai sesuai prestasinya dalam mengumpulkan uang. Apalagi secara sepintas, urusan domestik tersebut hanya berupa kegiatan teknis kasar dan kotor, sehingga tak pantas dikerjakan oleh orang terhormat.
Kewajiban siapa?
Opini yang berkembang di tengah masyarakat tentang citra buruk dan rendah dari pekerjaan urusan domestik ini, menjadi penyebab dari enggannya para wanita terpelajar untuk mengakuinya sebagai kewajibannya. Dan dengan berdalih dasar teori peran ganda suami, mereka menuntut agar bisa melepaskan diri dari tanggung jawab domestik tersebut.
Secara bijak, Islam sudah pula menyinggung permasalahan ini dalam pedoman hidup al-Qur'an dan al-Hadits. Abdul Halim Abu Syuqqah, menyebutkan dalam bukunya, Tahrirul Mar-ah fi `Ashir Risalah, bahwa seorang wanita berkewajiban mengurus rumah tangga dan anak-anaknya sebaik mungkin. Dengan demikian kegiatan profesi tidak boleh sampai menghalanginya melaksanakan tanggung jawab ini.
Dari Abdullah bin Umar ra dikatakan bahwa Rasulullah saw bersabda, "....dan seorang istri adalah pemimpin bagi rumah suami dan anak-anaknya, dan dia akan dimintai pertanggungjawaban tentang mereka......" (HR Bukhari Muslim)
Dari Abu Hurairah dikatakan bahwa Rasulullah bersabda, "Sebaik-baik wanita yang mengendarai unta adalah wanita Quraisy". Dalam riwayat lain disebutkan, "Wanita Quraisy yang saleh adalah wanita yang sangat menyayangi anaknya yang masih kecil dan sangat menjaga suaminya dalam soal miliknya." (HR Bukhari)
Jelas, posisi kaum ibu adalah sebagai 'pemimpin bagi rumah suami' dan 'pemimpin anak-anak'. Kalau orang sekarang kerap menyebut istilah pemimpin dengan sebutan direktur atau manajer, maka tak salah pula jika profesi ibu di rumah pun disebut sebagai manajer rumah tangga. Ruang lingkup tugasnya adalah memelihara rumah dan harta yang ada di dalamnya, dan merawat anak-anak. Tentu saja, urusan domestik ada di dalamnya. Kelak, kaum ibu akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah swt tentang kepemimpinannya itu.
Dalam pandangan Islam, urusan domestik keluarga memiliki peran dan fungsi yang penting dan terhormat dalam mendukung kesuksesan keluarga. Begitu hebatnya Islam menjunjung tinggi pekerjaan ini, hingga menyamakan derajatnya dengan kewajiban pergi berperang bagi kaum laki-laki, yang menjanjikan syahid bagi mereka.
Anas bin Malik menceritakan sebuah kisah, "Satu hari beberapa wanita mendatangi Rasulullah saw dan bertanya, "Ya Rasulullah. Kaum lelaki kembali dengan membawa pahala perjuangan di jalan Allah; sedang kami tidak mempunyai cara untuk dapat seperti mereka?" Mendengar ini beliau pun bersabda: "Jangan takut, tenanglah kalian! Mengurus rumah tangga kalian masing-masing dengan sungguh-sungguh dapat mengejar pahala syahid di jalan Alah seperti mereka."
Walaupun pekerjaan domestik ini tak memberikan penghasilan secara langsung, tetapi memberikan manfaat sangat besar bagi seluruh anggota keluarga. Rumah yang bersih, sehat, rapi, indah dan nyaman ditinggali, tak mungkin tercipta tanpa dukungan keahlian urusan domestik. Dari surga dunia inilah muncul ide-ide brilyan dari seluruh anggota keluarga tersebut dalam bidang masing-masing. Ayah menemukan semangat bekerja dari kenyamanan tidur dan istirahatnya di rumah. Anak-anak pun menemukan keriangannya bermain dan belajar dari suasana rumah yang ditata bersih dan menyenangkan. Anda yang ingin lebih menyelami makna pentingnya urusan domestik ini, cobalah untuk berhenti satu atau dua hari saja untuk tidak menyapu dan mengepel rumah, tidak mencuci dan menyeterika baju, serta tidak memasak di dapur. Bagaimana jadinya keluarga Anda?
Satu poin lagi untuk urusan domestik yang kerap dianggap sepele, adalah merawat dan mendidik anak. Salah sama sekali jika menganggap ini hal yang mudah dan remeh. Sebuah anggukan wajah, atau sekedar senyumam di ujung bibir, juga belaian tangan ibu di pundak anak, ternyata sangat menentukan bagi puluhan ribu hari berikutnya yang masih harus ia lewati. Satu detik keikhlasan ibu merawat anak, bisa menjadi bibit keuntungan jutaan rupiah yang kelak didapatkan anak dari kesuksesannya setelah dewasa.
Beratnya beban urusan domestik ini, nampaknya seimbang dengan janji syahid yang diberikan oleh Allah swt kepada kaum ibu yang menunaikannya dengan baik. Pekerjaan ini bisa menjadi salah satu alternatif tercepat memperoleh surga bagi mereka. Begitu mulianya pekerjaan ini sehingga Rasulullah memberikan dorongan penuh kepada putri tercintanya, Fatimah ra, untuk tidak meninggalkan peran ini, walau seberat apapun beban yang harus
ditanggungnya.
Fatimah sang putri, yang bersuamikan Ali bin Abi Thalib, hidup dalam keadaan miskin, sehingga ia harus membanting tulang untuk mengerjakan semua pekerjaan rumah tangga. Diriwayatkan Abu Daud bagaimana Ali mengisahkan tentang istrinya ini, "Suatu ketika Fatimah putri Nabi saw berada di dekatku. Dia memutar gilingan hingga lecet tangannya, dia memanggul girbah air hingga lecet pundaknya, dan dia menyapu rumah hingga berdebu pakaiannya." Dalam riwayat Abu Daud yang lain ditambahkan; "Fatimah membuat roti sehingga warna mukanya berubah (terkena arang)."
Suatu ketika Ali mendesak istrinya untuk memohon kepada ayahandanya agar diberi bantuan seorang hamba yang diperoleh Rasulullah saw sebagai hasil jarahan perang, demi meringankan pekerjaan-pekerjaannya. Namun Rasulullah menolak permintaan putri tercintanya itu, sambil membesarkan hati Fatimah dan Ali dengan mengatakan, "Maukah kalian aku beritahu mengenai sesuatu yang lebih baik dari yang kalian minta? Apabila kalian sudah siap di tempat tidur kalian, maka hendaklah kalian baca tasbih tiga puluh tiga kali, tahmid tiga puluh tiga kali, dan takbir tiga puluh empat kali. Hal itu lebih baik buat kalian dari pada seorang pelayan." (HR Bukhari dan Muslim).
Rupanya beliau menginginkan Fatimah memperoleh surganya dengan melalui ujian dalam rumah tangganya tersebut.
Apa Kewajiban Suami?
Suami telah diberi amanah oleh Allah untuk menjadi pemimpin keluarga (An Nisa' 24). Agar kewajiban itu dapat terlaksana, maka istri sebagai anggota keluarga wajib mendukung kewajiban suami tersebut. Bagaimana caranya memberi dukungan? Yaitu dengan memberikan ketaatannya kepada sang pemimpin keluarga. Untuk mempertegas hal tersebut, melalui beragam haditsnya, Rasulullah telah mempertegas kewajiban istri untuk taat kepada suami. Semua itu diatur agar kepemimpinan suami bisa terlaksana dengan baik. Dianalogikan dengan keseimbangan tersebut, maka jika ternyata istri mengemban kewajiban menjadi manajer rumah tangga yang mengurus anak dan urusan domestik rumah tangga, maka suami pun wajib pula mendukungnya. Sama persis seperti dukungan yang diberikan istri untuk taat kepadanya, dalam rangka mendukung kewajibannya sebagai pemimpin keluarga. Lantas, bagaimana bentuk dukungan yang wajib diberikan suami untuk menyukseskan tugas istri dalam menangani urusan domestik?
Yaitu, dengan menyediakan fasilitas yang dibutuhkan istri dalam melaksanakan tugasnya tersebut. Kewajiban suamilah untuk mencukupi fasilitas tersebut, sesuai dengan kemampuannya dalam mencari nafkah. Keberadaan fasilitas seperti mesin cuci, almari es dan kompor gas, misalnya, tentu saja akan sangat membantu meringankan pekerjaan urusan domestik. Atau dengan menggaji orang yang membantu meringankan pekerjaan teknis operasional rumah tangga sehari-hari. Semakin banyak fasilitas bisa diberikan tentu lebih baik, karena akan meringankan beban istri, sehingga istri bisa memiliki waktu dan tenaga lebih banyak untuk bisa dipergunakan menangani pekerjaan-pekerjaan lain baik untuk keluarga ataupun untuk ummat.
Rasulullah saw sendiri menyediakan pelayan khusus untuk mengatur urusan kerumahtanggaan istri-istri beliau. Sementara masing-masing istri pun memiliki pula budak-budak perempuan yang senantiasa menemani dan memberikan bantuan. Hal ini membuat Aisyah ra bisa meluangkan waktu untuk mempelajari berbagai sisi keilmuan dan melayani kebutuhan kaum muslimah sehingga nantinya ia menjadi ahli hadits dan menjadi guru dari banyak sahabat. Istri Rasulullah saw yang lain, seperti Hafshah, sempat mempelajari keahlian menulis kaligrafi, sementara Zainab berkonsentrasi membuka usaha ketrampilan tangan di rumahnya sehingga bisa memperoleh penghasilan sendiri.
Lantas bagaimana jika nafkah yang diperoleh suami tak mencukupi untuk memberikan fasilitas tersebut? Tak mengapa, karena banyaknya fasilitas tak bisa ditetapkan dengan standar tertentu. Semuanya tergantung dari perolehan penghasilan masing-masing keluarga. Jika memang rejeki keluarga tersebut sedikit, maka suami wajib mendukung tugas istri dengan memberikan bantuan langsung.
Rasulullah saw memberi contoh dengan sesekali mengurus sendiri keperluan-keperluannya. Beliau menjahit sendiri baju-baju yang sobek. Tentang bantuan itu, Aisyah berkata, "Beliau yang menjahit kainnya, menjahit sepatunya, dan mengerjakan apa yang biasa dikerjakan oleh kaum laki-laki di rumah mereka." (HR Bukhari)
Dari al-Aswad, dia berkata, "Aku pernah bertanya kepada Aisyah mengenai apa yang dilakukan oleh Nabi saw di rumah beliau." Aisyah mengatakan, "Beliau biasanya suka membantu urusan keluarganya. Lalu bila waktu shalat tiba, beliau pergi untuk mengerjakan shalat." (HR Bukhari)
Artikel lain dapat anda jumpai di Belajar Bisnis Sesuai Syariah
08:50 Posted in Ladang Amal | Permalink | Comments (0) | Email this
23 March 2006
Pelajaran Pertama Kepemimpinan
Seorang raja yang sudah memasuki usia senja sedang mempersiapkan putranya agar suatu ketika kelak dapat menggantikan dirinya. Ia mengirim putranya pada seorang bijak untuk belajar mengenai kepemimpinan.
Setelah menempuh perjalanan panjang, bertemulah putra mahkota ini dengan si orang bijak. ''Aku ingin belajar padamu cara memimpin bangsaku,'' katanya. Orang bijak menjawab, ''Masuklah engkau ke dalam hutan dan tinggallah disana selama setahun. Engkau akan belajar mengenai kepemimpinan.''
Setahun berlalu. Kembalilah putra mahkota ini menemui si orang bijak. ''Apa yang sudah kau pelajari?'' tanya orang bijak. ''Saya sudah belajar bahwa inti kepemimpinan adalah mendengarkan,'' jawabnya. ''Lantas, apa saja yang sudah engkau dengarkan?'' ''Saya sudah mendengarkan bagaimana burung-burung berkicau, air mengalir, angin berhembus dan serigala melonglong di malam hari,'' jawabnya. ''Kalau hanya itu yang engkau dengarkan berarti engkau belum memahami arti kepemimpinan. Kembalilah ke hutan dan tinggallah disana satu tahun lagi,'' kata si orang bijak.
Walaupun penuh keheranan, putra mahkota ini kembali mengikuti saran tersebut. Setahun berlalu dan kembalilah ia pada si orang bijak. ''Apa yang sudah kau pelajari,'' tanya orang bijak. ''Saya sudah mendengarkan suara matahari memanasi bumi, suara bunga-bunga yang mekar merekah serta suara rumput yang menyerap air. ''Kalau begitu engkau sekarang sudah siap menggantikan ayahmu. Engkau sudah memahami hakekat kepemimpinan,'' kata si orang bijak seraya memeluk sang putra mahkota.
Syarat utama kepemimpinan adalah kemampuan mendengarkan. Manusia diciptakan dengan dua telinga dan satu mulut. Ini adalah isyarat bahwa kita perlu mendengar dua kali sebelum berbicara satu kali. Mulut juga didisain tertutup sementara telinga kita dibuat terbuka. Ini juga pertanda bahwa kita perlu lebih sering menutup mulut dan membuka telinga.
Prinsip dasar inilah yang sebetulnya perlu dipahami oleh seorang pemimpin dimana pun ia berada, apakah ia memimpin negara, perusahaan, organisasi, rumah tangga maupun diri sendiri. Semua masalah yang terjadi di dunia ini senantiasa bermula dari satu hal: Kita terlalu banyak bicara tapi kurang mau mendengarkan orang lain. Kita memiliki terlalu banyak statement (pernyataan), tetapi terlalu sedikit statesman (negarawan) yang ditandai dengan kemauan untuk mendengarkan pihak lain.
Tetapi, mendengarkan dengan telinga sebenarnya baru merupakan tingkat pertama mendengarkan. Seperti yang ditunjukkan dalam cerita di atas, seorang pemimpin bahkan dituntut untuk dapat mendengarkan hal-hal yang tak bisa didengarkan, menangkap hal-hal yang tak dapat ditangkap, serta merasakan hal-hal yang tak dapat dirasakan oleh orang kebanyakan.
Seorang pemimpin perlu mendengarkan dengan mata. Inilah tingkat kedua mendengarkan. Dalam proses komunikasi ada banyak hal yang tidak dikatakan tapi sering ditunjukkan dengan tingkah laku dan bahasa tubuh. Orang mungkin mengatakan tidak keberatan memenuhi permintaan Anda, tapi bahasa tubuhnya menunjukkan hal yang sebaliknya.
Seorang karyawan yang merasa gajinya terlalu rendah mungkin tidak menyampaikan keluhannya dalam bentuk kata-kata tetapi dalam bentuk perbuatan. Seorang yang merasa bosan dengan lawan bicaranya juga sering menunjukkan kebosanan itu lewat gerakan tubuhnya. Nah, kalau Anda tidak dapat menangkap tanda-tanda ini, Anda belum memiliki kepekaan yang diperlukan sebagai pemimpin.
Tingkat ketiga adalah mendengarkan dengan hati. Inilah tingkat mendengarkan yang tertinggi. Penyair Kahlil Gibran menggambarkan hal ini dengan mengatakan: ''Adalah baik untuk memberi jika diminta, tetapi jauh lebih baik bila kita memberi tanpa diminta.'' Kita memberikan sesuatu kepada orang lain karena penghayatan, rasa empati dan kepekaan kita akan kebutuhan orang lain. Disini orang tak perlu mengatakan atau menunjukkan apapun. Kitalah yang langsung dapat menangkap apa yang menjadi kebutuhannya. Komunikasi berlangsung dari hati ke hati dengan menggunakan ''kecepatan cahaya''.
Sayang, amat jarang pemimpin di Indonesia yang memiliki kepekaan ini. Jangankan di level ketiga, untuk sampai ke level pertama yaitu mendengarkan dengan telinga saja masih banyak yang belum mampu. Lihatlah apa yang terjadi pada masyarakat kita. Berbagai bencana yang dialami masyarakat, mulai dari banjir, gempa bumi, flu burung, hingga demam berdarah tidak ditanggapi pemerintah dengan serius.
Bahkan himbauan dari berbagai kelompok masyarakat kepada para politisi tertentu agar tidak mencalonkan diri karena tergolong politisi busuk dan pelaku KKN dianggap sebagai angin lalu. Orang-orang ini - bahkan yang sudah terbukti tidak mampu sekalipun - masih ngotot mencalonkan dirinya sebagai presiden. Karena itu, marilah kita berdoa agar negara ini tidak lagi dipimpin oleh orang yang ''tuli'', ''bisu'' dan ''buta''. Apalagi oleh orang yang ''buta'' hati nuraninya dan hanya memikirkan kepentingan dirinya sendiri.
Setelah menempuh perjalanan panjang, bertemulah putra mahkota ini dengan si orang bijak. ''Aku ingin belajar padamu cara memimpin bangsaku,'' katanya. Orang bijak menjawab, ''Masuklah engkau ke dalam hutan dan tinggallah disana selama setahun. Engkau akan belajar mengenai kepemimpinan.''
Setahun berlalu. Kembalilah putra mahkota ini menemui si orang bijak. ''Apa yang sudah kau pelajari?'' tanya orang bijak. ''Saya sudah belajar bahwa inti kepemimpinan adalah mendengarkan,'' jawabnya. ''Lantas, apa saja yang sudah engkau dengarkan?'' ''Saya sudah mendengarkan bagaimana burung-burung berkicau, air mengalir, angin berhembus dan serigala melonglong di malam hari,'' jawabnya. ''Kalau hanya itu yang engkau dengarkan berarti engkau belum memahami arti kepemimpinan. Kembalilah ke hutan dan tinggallah disana satu tahun lagi,'' kata si orang bijak.
Walaupun penuh keheranan, putra mahkota ini kembali mengikuti saran tersebut. Setahun berlalu dan kembalilah ia pada si orang bijak. ''Apa yang sudah kau pelajari,'' tanya orang bijak. ''Saya sudah mendengarkan suara matahari memanasi bumi, suara bunga-bunga yang mekar merekah serta suara rumput yang menyerap air. ''Kalau begitu engkau sekarang sudah siap menggantikan ayahmu. Engkau sudah memahami hakekat kepemimpinan,'' kata si orang bijak seraya memeluk sang putra mahkota.
Syarat utama kepemimpinan adalah kemampuan mendengarkan. Manusia diciptakan dengan dua telinga dan satu mulut. Ini adalah isyarat bahwa kita perlu mendengar dua kali sebelum berbicara satu kali. Mulut juga didisain tertutup sementara telinga kita dibuat terbuka. Ini juga pertanda bahwa kita perlu lebih sering menutup mulut dan membuka telinga.
Prinsip dasar inilah yang sebetulnya perlu dipahami oleh seorang pemimpin dimana pun ia berada, apakah ia memimpin negara, perusahaan, organisasi, rumah tangga maupun diri sendiri. Semua masalah yang terjadi di dunia ini senantiasa bermula dari satu hal: Kita terlalu banyak bicara tapi kurang mau mendengarkan orang lain. Kita memiliki terlalu banyak statement (pernyataan), tetapi terlalu sedikit statesman (negarawan) yang ditandai dengan kemauan untuk mendengarkan pihak lain.
Tetapi, mendengarkan dengan telinga sebenarnya baru merupakan tingkat pertama mendengarkan. Seperti yang ditunjukkan dalam cerita di atas, seorang pemimpin bahkan dituntut untuk dapat mendengarkan hal-hal yang tak bisa didengarkan, menangkap hal-hal yang tak dapat ditangkap, serta merasakan hal-hal yang tak dapat dirasakan oleh orang kebanyakan.
Seorang pemimpin perlu mendengarkan dengan mata. Inilah tingkat kedua mendengarkan. Dalam proses komunikasi ada banyak hal yang tidak dikatakan tapi sering ditunjukkan dengan tingkah laku dan bahasa tubuh. Orang mungkin mengatakan tidak keberatan memenuhi permintaan Anda, tapi bahasa tubuhnya menunjukkan hal yang sebaliknya.
Seorang karyawan yang merasa gajinya terlalu rendah mungkin tidak menyampaikan keluhannya dalam bentuk kata-kata tetapi dalam bentuk perbuatan. Seorang yang merasa bosan dengan lawan bicaranya juga sering menunjukkan kebosanan itu lewat gerakan tubuhnya. Nah, kalau Anda tidak dapat menangkap tanda-tanda ini, Anda belum memiliki kepekaan yang diperlukan sebagai pemimpin.
Tingkat ketiga adalah mendengarkan dengan hati. Inilah tingkat mendengarkan yang tertinggi. Penyair Kahlil Gibran menggambarkan hal ini dengan mengatakan: ''Adalah baik untuk memberi jika diminta, tetapi jauh lebih baik bila kita memberi tanpa diminta.'' Kita memberikan sesuatu kepada orang lain karena penghayatan, rasa empati dan kepekaan kita akan kebutuhan orang lain. Disini orang tak perlu mengatakan atau menunjukkan apapun. Kitalah yang langsung dapat menangkap apa yang menjadi kebutuhannya. Komunikasi berlangsung dari hati ke hati dengan menggunakan ''kecepatan cahaya''.
Sayang, amat jarang pemimpin di Indonesia yang memiliki kepekaan ini. Jangankan di level ketiga, untuk sampai ke level pertama yaitu mendengarkan dengan telinga saja masih banyak yang belum mampu. Lihatlah apa yang terjadi pada masyarakat kita. Berbagai bencana yang dialami masyarakat, mulai dari banjir, gempa bumi, flu burung, hingga demam berdarah tidak ditanggapi pemerintah dengan serius.
Bahkan himbauan dari berbagai kelompok masyarakat kepada para politisi tertentu agar tidak mencalonkan diri karena tergolong politisi busuk dan pelaku KKN dianggap sebagai angin lalu. Orang-orang ini - bahkan yang sudah terbukti tidak mampu sekalipun - masih ngotot mencalonkan dirinya sebagai presiden. Karena itu, marilah kita berdoa agar negara ini tidak lagi dipimpin oleh orang yang ''tuli'', ''bisu'' dan ''buta''. Apalagi oleh orang yang ''buta'' hati nuraninya dan hanya memikirkan kepentingan dirinya sendiri.
Oleh: Arvan Pradiansyah, pengamat kepemimpinan dan penulis buku You Are A Leader!
e-mail: kepemimpinan@republika.co.id
faksimile: 021-7983623
14:46 Posted in Leadership | Permalink | Comments (0) | Email this
Eropa dan Kekhawatiran Pada Para Mualaf
http://www.republika.co.id
Para mualaf di Barat kini diawasi secara ketat. Tudingan membantu terorisme membatasi ruang gerak mereka. Masyarakat Barat terus saja dicekam ketakutan. Islamophobia dan kekhawatiran terhadap serangan teroris radikal tak kunjung surut bahkan makin membesar. Kini, mereka seolah menambah lagi satu musuh baru, orang-orang Barat yang beralih ke Islam. Surat kabar Amerika Serikat, The New York Times, mengangkat besar-besar tulisan tentang mualaf 'berbahaya' itu dalam laporan utamanya. Mereka mengawali ceritanya dari kisah Courtailler bersaudara tumbuh besar di sebuah desa yang terletak di lereng pegunungan Alpine.
Dua tokoh berita, David dan Jerome Courtailler, adalah putra dari seorang tukang daging yang bangkrut. Frsutrasi menyeret siswa drop out sekolah Katolik ini dalam dunia kenakalan remaja. Alkohol dan narkotika menjadi teman akrab, sampai mereka bertemu Islam. Namun setelah lima tahun dua bersaudara ini memutuskan memeluk agama Islam di sebuah masjid di Inggris, tepatnya di kota Brighton, tahun 1996, mereka harus menerima kenyataan mendapat tuduhan terkait jaringan terorisme Islam di Eropa. Kini, David yang berusia 28 tahun, sudah meringkuk di tahanan. Demikian pula Jerome, 29, ditahan pihak kepolisian Belanda sehari setelah keluar dakwaan resmi dari pengadilan bahwa dirinya adalah anggota jaringan teroris internasional. Kedua bersaudara itu merupakan bagian dari kelompok-kelompok yang telah menemukan syiar Islam di Eropa.
Dan kini, mereka, para mualat kulit putih itu, harus dihadapkan pada tuduhan tanpa bukti bahwa mereka 'menjadi bibit-bibit baru jaringan terorisme internasional'. Koran NYT menulis bagaimana para pejabat-pejabat di banyak negara Eropa, khususnya mereka yang menangani langsung kegiatan kontra teroris, menjadi risau. Pasalnya, 'anggota baru' itu akan sangat sulit dideteksi serta diawasi. Akibatnya, para mualaf ini sekarang diawasi ketat karena kekhawatirkan menjadi bagian kelompok ekstrimis. Untuk upaya pencegahan dini, banyak di antara para mualaf Eropa tersebut terpaksa ditangkap dengan tuduhan terorisme. Ini mengingat pengalaman dan kemampuan mereka, seperti ditakutkan pihak berwenang, dapat menimbulkan masalah yang lebih besar.
"Mereka yang baru pindah agama ini berpotensi dimanfaatkan oleh kalangan jihad," seru Jean-Luc Marret, ahli terorisme dari Strategic Research Foundation, di Paris. "Sejak dulu kelompok tersebut sudah diperbantukan untuk mendukung penyediaan logistik dan sebagainya, namun kini telah berkembang dalam skala yang lebih luas." Harus diakui, Islam adalah agama yang paling cepat perkembangannya di Eropa. Meski belum ada data konkret, akan tetapi para ahli memperkirakan jumlah masyarakat Eropa yang pindah agama dan menjadi Muslim meningkat pesat sejak peristiwa 11 September 2001. Laporan dari badan intelejen dalam negeri Perancis yang diterbitkan oleh harian Le Figaro, memperkirakan tahun lalu ada sekitar 30 ribu hingga 50 ribu mualaf baru di Perancis.
Menariknya, peningkatan tersebut justru dipicu oleh maraknya kampanye anti teroris. Antoine Sfeir, seorang sarjana asal Perancis yang menulis sebuah buku mengenai fenomena tersebut, memberikan penjelaskan. Sebagian kecil mereka yang pindah agama, terdiri dari kaum muda, yang malah melihat gelombang terorisme Islam ini sebagai "bentuk perjuangan melawan kaum berada dan penguasa oleh pihak tertindas di planet ini." Dia membenarkan sebagian kecil dari orang-orang yang beralih ke Islam ini kemudian bersimpati terhadap gerakan terorisme dan bahkan turut serta mendukung aktivitas kekerasan.
Pihaknya mengklaim sudah menemukan sejumlah kelompok mualaf militan hingga kini. Meski hanya sejumlah kecil dari mereka yang diindikasikan terkait dengan aktivitas terorisme, namun pihak kepolisian tetap memandang serius serta menilainya sebagai ancaman potensial. "Individu-individu dengan mental dan jiwa bermasalah yang lantas beralih ke Islam sangat rentan masuk dan terlibat pada jaringan teror," demikian bunyi laporan intelejen itu seraya menambahkan kelompok radikal sengaja merekrut para mualaf karena mereka dapat melintas perbatasan negara dengan mudah, menyewa kamar hotel, dan penginapan serta kemudahan guna penyediaan kebutuhan logistik.
Tak hanya terjadi di Eropa
Seperti dikutip dari harian NYT edisi 19 Juli 2004, fenomena kecurigaan terhadap mualaf juga terjadi di belahan dunia lainnya. Seorang supir taksi di Australia kelahiran Inggris, Jack Roche, yang pindah agama ke Islam, dilaporkan pernah dilatih di Afganistan dan kembali ke Australia untuk selanjutnya dipenjara selama sembilan tahun karena percobaan pemboman kedutaan Israel di Canberra. Hal serupa di Amerika Serikat ketika Jose Padilla ditahan oleh pihak berwajib di sana dengan tuduhan merencanakan aksi terorisme. Dia memeluk Islam sejak tahun 1992 ketika dipenjarakan di Florida.
David dan J‚r“me Courtailler, dua bersaudara asal Perancis tadi, dapat bepergian secara bebas ke negara-negara Uni Eropa dengan tidak terlalu menarik perhatian aparat keamanan, tidak seperti halnya pengawasan ketat yang kerap dilakukan terhadap pemuda asal Timur-Tengah dan Afrika Utara. Pada sebuah kesempatan wawancara, seorang pejabat senior di dinas anti teror Perancis mengatakan para mualaf militan ini beralih ke Islam dengan berbagai macam cara. Namun kebanyakan adalah akibat kontak dan hubungan erat dengan kaum militan Muslim di penjara-penjara Eropa, dimana populasi tahanan Muslim memang meningkat.
Seperti misalnya Richard Reid, yang kemudian dikenal sebagai 'pembom sepatu dari Inggris', menjadi mualaf juga ketika dia dipenjara. Sekedar informasi, populasi penghuni penjara di Perancis saat ini terdiri dari 50 persen umat Muslim. Pintu masuk lain menuju Islam adalah melalui kelompok Jamaah Tabligh, yang dibentuk di India sekitar 75 tahun lalu untuk memperkenalkan agama Islam di tengah masyarakat mayoritas Hindu. Banyak kalangan di Eropa menilai Jamaah Tabligh tersebut telah berkembang menjadi jaringan yang memiliki pengikut baru terbesar di dunia. Menurut harian tersebut, Jamaah Tabligh juga seringkali mengirimkan sejumlah mualaf untuk mendalami pendidikan agama ke Arab Saudi atau Pakistan.
Beberapa alumni Jamaah Tabligh asal Barat yang terkenal, termasuk di antaranya John Walker Lindh, seorang warga Amerika yang ditangkap ketika berperang bersama pasukan Taliban di Afganistan tahun 2002 lalu. Pengaruh dari keluarga juga berperan cukup besar untuk menarik mereka beralih menjadi Muslim. Terutama di Perancis, dimana pernikahan beda agama antara penganut Kristen dan Islam dikabarkan meningkat secara signifikan, atau akibat pengaruh lingkungan tempat tinggal yang didominasi komunitas pemeluk Muslim. Benarkah apa yang dituduhkan mereka? Muhammad Ghaffari, pakar lingkungan yang juga aktivis Islamic Center of Tallahassee menyatakan, tuduhan itu makin memojokkan posisi Muslim dan mualaf khususnya.
Tensi kebencian terhadap Muslim sejak NYT menurunkan tulisan itu, meningkat kembali. ''Padahal, jangan hanya karena kaum militan salah, maka seluruh umat Islam dinayatakan salah,'' ujarnya. Ia menyayangkan munculnya tudingan-tudingan semacam itu dan mengkahawatirkan bakal bertambahnya angka kekerasan terhadap kaum Muslim. Data The Council on American-Islamic Relations, sebuah lembaga perlindungan HAM, menyebut, sepanjang tahun 2003 terjadi lebih dari 1.000 insiden yang berpangkal pada sentimen agama. Angka ini meningkat hampir 50 persen, dari 600 kasus yang dilaporkan pada tahun 2002. ( yus\iol\newyorktimes )
Dua tokoh berita, David dan Jerome Courtailler, adalah putra dari seorang tukang daging yang bangkrut. Frsutrasi menyeret siswa drop out sekolah Katolik ini dalam dunia kenakalan remaja. Alkohol dan narkotika menjadi teman akrab, sampai mereka bertemu Islam. Namun setelah lima tahun dua bersaudara ini memutuskan memeluk agama Islam di sebuah masjid di Inggris, tepatnya di kota Brighton, tahun 1996, mereka harus menerima kenyataan mendapat tuduhan terkait jaringan terorisme Islam di Eropa. Kini, David yang berusia 28 tahun, sudah meringkuk di tahanan. Demikian pula Jerome, 29, ditahan pihak kepolisian Belanda sehari setelah keluar dakwaan resmi dari pengadilan bahwa dirinya adalah anggota jaringan teroris internasional. Kedua bersaudara itu merupakan bagian dari kelompok-kelompok yang telah menemukan syiar Islam di Eropa.
Dan kini, mereka, para mualat kulit putih itu, harus dihadapkan pada tuduhan tanpa bukti bahwa mereka 'menjadi bibit-bibit baru jaringan terorisme internasional'. Koran NYT menulis bagaimana para pejabat-pejabat di banyak negara Eropa, khususnya mereka yang menangani langsung kegiatan kontra teroris, menjadi risau. Pasalnya, 'anggota baru' itu akan sangat sulit dideteksi serta diawasi. Akibatnya, para mualaf ini sekarang diawasi ketat karena kekhawatirkan menjadi bagian kelompok ekstrimis. Untuk upaya pencegahan dini, banyak di antara para mualaf Eropa tersebut terpaksa ditangkap dengan tuduhan terorisme. Ini mengingat pengalaman dan kemampuan mereka, seperti ditakutkan pihak berwenang, dapat menimbulkan masalah yang lebih besar.
"Mereka yang baru pindah agama ini berpotensi dimanfaatkan oleh kalangan jihad," seru Jean-Luc Marret, ahli terorisme dari Strategic Research Foundation, di Paris. "Sejak dulu kelompok tersebut sudah diperbantukan untuk mendukung penyediaan logistik dan sebagainya, namun kini telah berkembang dalam skala yang lebih luas." Harus diakui, Islam adalah agama yang paling cepat perkembangannya di Eropa. Meski belum ada data konkret, akan tetapi para ahli memperkirakan jumlah masyarakat Eropa yang pindah agama dan menjadi Muslim meningkat pesat sejak peristiwa 11 September 2001. Laporan dari badan intelejen dalam negeri Perancis yang diterbitkan oleh harian Le Figaro, memperkirakan tahun lalu ada sekitar 30 ribu hingga 50 ribu mualaf baru di Perancis.
Menariknya, peningkatan tersebut justru dipicu oleh maraknya kampanye anti teroris. Antoine Sfeir, seorang sarjana asal Perancis yang menulis sebuah buku mengenai fenomena tersebut, memberikan penjelaskan. Sebagian kecil mereka yang pindah agama, terdiri dari kaum muda, yang malah melihat gelombang terorisme Islam ini sebagai "bentuk perjuangan melawan kaum berada dan penguasa oleh pihak tertindas di planet ini." Dia membenarkan sebagian kecil dari orang-orang yang beralih ke Islam ini kemudian bersimpati terhadap gerakan terorisme dan bahkan turut serta mendukung aktivitas kekerasan.
Pihaknya mengklaim sudah menemukan sejumlah kelompok mualaf militan hingga kini. Meski hanya sejumlah kecil dari mereka yang diindikasikan terkait dengan aktivitas terorisme, namun pihak kepolisian tetap memandang serius serta menilainya sebagai ancaman potensial. "Individu-individu dengan mental dan jiwa bermasalah yang lantas beralih ke Islam sangat rentan masuk dan terlibat pada jaringan teror," demikian bunyi laporan intelejen itu seraya menambahkan kelompok radikal sengaja merekrut para mualaf karena mereka dapat melintas perbatasan negara dengan mudah, menyewa kamar hotel, dan penginapan serta kemudahan guna penyediaan kebutuhan logistik.
Tak hanya terjadi di Eropa
Seperti dikutip dari harian NYT edisi 19 Juli 2004, fenomena kecurigaan terhadap mualaf juga terjadi di belahan dunia lainnya. Seorang supir taksi di Australia kelahiran Inggris, Jack Roche, yang pindah agama ke Islam, dilaporkan pernah dilatih di Afganistan dan kembali ke Australia untuk selanjutnya dipenjara selama sembilan tahun karena percobaan pemboman kedutaan Israel di Canberra. Hal serupa di Amerika Serikat ketika Jose Padilla ditahan oleh pihak berwajib di sana dengan tuduhan merencanakan aksi terorisme. Dia memeluk Islam sejak tahun 1992 ketika dipenjarakan di Florida.
David dan J‚r“me Courtailler, dua bersaudara asal Perancis tadi, dapat bepergian secara bebas ke negara-negara Uni Eropa dengan tidak terlalu menarik perhatian aparat keamanan, tidak seperti halnya pengawasan ketat yang kerap dilakukan terhadap pemuda asal Timur-Tengah dan Afrika Utara. Pada sebuah kesempatan wawancara, seorang pejabat senior di dinas anti teror Perancis mengatakan para mualaf militan ini beralih ke Islam dengan berbagai macam cara. Namun kebanyakan adalah akibat kontak dan hubungan erat dengan kaum militan Muslim di penjara-penjara Eropa, dimana populasi tahanan Muslim memang meningkat.
Seperti misalnya Richard Reid, yang kemudian dikenal sebagai 'pembom sepatu dari Inggris', menjadi mualaf juga ketika dia dipenjara. Sekedar informasi, populasi penghuni penjara di Perancis saat ini terdiri dari 50 persen umat Muslim. Pintu masuk lain menuju Islam adalah melalui kelompok Jamaah Tabligh, yang dibentuk di India sekitar 75 tahun lalu untuk memperkenalkan agama Islam di tengah masyarakat mayoritas Hindu. Banyak kalangan di Eropa menilai Jamaah Tabligh tersebut telah berkembang menjadi jaringan yang memiliki pengikut baru terbesar di dunia. Menurut harian tersebut, Jamaah Tabligh juga seringkali mengirimkan sejumlah mualaf untuk mendalami pendidikan agama ke Arab Saudi atau Pakistan.
Beberapa alumni Jamaah Tabligh asal Barat yang terkenal, termasuk di antaranya John Walker Lindh, seorang warga Amerika yang ditangkap ketika berperang bersama pasukan Taliban di Afganistan tahun 2002 lalu. Pengaruh dari keluarga juga berperan cukup besar untuk menarik mereka beralih menjadi Muslim. Terutama di Perancis, dimana pernikahan beda agama antara penganut Kristen dan Islam dikabarkan meningkat secara signifikan, atau akibat pengaruh lingkungan tempat tinggal yang didominasi komunitas pemeluk Muslim. Benarkah apa yang dituduhkan mereka? Muhammad Ghaffari, pakar lingkungan yang juga aktivis Islamic Center of Tallahassee menyatakan, tuduhan itu makin memojokkan posisi Muslim dan mualaf khususnya.
Tensi kebencian terhadap Muslim sejak NYT menurunkan tulisan itu, meningkat kembali. ''Padahal, jangan hanya karena kaum militan salah, maka seluruh umat Islam dinayatakan salah,'' ujarnya. Ia menyayangkan munculnya tudingan-tudingan semacam itu dan mengkahawatirkan bakal bertambahnya angka kekerasan terhadap kaum Muslim. Data The Council on American-Islamic Relations, sebuah lembaga perlindungan HAM, menyebut, sepanjang tahun 2003 terjadi lebih dari 1.000 insiden yang berpangkal pada sentimen agama. Angka ini meningkat hampir 50 persen, dari 600 kasus yang dilaporkan pada tahun 2002. ( yus\iol\newyorktimes )
14:25 Posted in Alam Islami | Permalink | Comments (0) | Email this


