08 September 2006
Bagaimana Memulai Bisnis?
Bapak Pengasuh Yth., Saya karyawan swasta ingin mencari penghasilan tambahan dari bisnis. Saya tak tahu dengan ketrampilan saya. Tapi saya tipe pemikir dana analitis sebab pernah kuliah di bidang system analist.
Saya ingin menjadi seorang pebisnis yang berhasil. Tapi saat ini saya tak tahu dalam bentuk/bidang apa saya harus menjalani untuk memulai bisnis. Bagaimana saya harus memulai bisnis yang belum saya dapatkan?
Indra Gunawan
Warakas, Jakarta Timur
Pertanyaan senada juga dikirim oleh Mustafa Karim di Trenggalek, Sahat Aditua di Bandung dan Surya Edi di Banten.
Pak Indra, Pak Karim, Pak Sahat dan Pak Edi Yth.,
Pertanyaan Anda juga merupakan pertanyaan yang ada di banyak kepala teman-teman kita yang lain, yang ingin memiliki usaha atau bisnis sendiri. Ada banyak yang sudah menemukan bisnis yang diterjuni, tapi tak sedikit juga yang masih belum tahu dan mencari. Ingin punya bisnis, bisnis apa?
Yang sudah pasti adalah Anda harus tahu betul bisnis yang ingin Anda terjuni. Belajar dari pengalaman orang lain ketika mereka memulai sebuah bisnis, umumnya bisnis yang dipilih berasal dari apa yang terdapat di lingkungan yang paling dikenalnya. Contohnya, seseorang memulai usaha bengkel karena hobinya memang senang mengutak-atik mesin. Mulai dari satu-dua temannya yang minta tolong memperbaiki motor atau mobilnya, akhirnya hobi itu diseriusi menjadi bisnisnya.
Yang lain, salah satu rekan baik saya. Tadinya ia bekerja di sebuah perusahaan periklanan yang lumayan besar. Karena kegiatan kesehariannya, ia melihat ada peluang yang masih besar di bidang ini, ia kemudian memberanikan diri membuat perusahaan sendiri di bidang yang sama. Dengan adanya relasi yang baik, perusahaan rekan saya itu kini telah berjalan dengan baik dan usianya sudah melampaui empat tahun.
Nah, apa yang dapat kita lihat? Paling tidak ada dua bagian besar. Pertama, kemampuan dan kepandaian mereka melihat peluang, dari hobi dan pekerjaan (lama)nya. Tentu Anda juga punya hobi atau pekerjaan yang ada sekarang. Cobalah mulai mengamati lebih seksama.
Melihat peluang juga bisa dilakukan dengan sering membaca majalah atau surat kabar atau jurnal ilmiah hasil penelitian perguruan tinggi atau lembaga peneliti. Bahkan dengan memperhatikan sekeliling kita, mulai dari Anda berjalan ke rumah hingga ke kantor, atau saat Anda jalan-jalan.
Siapkan saja sebuah buku notes kecil yang akan Anda isi dengan ide-ide yang muncul. Buka mata pasang telinga, siapkan pena. Sambil berpikir, apa atau bagian mana nih yang dapat dibisniskan?
Tentu setelah Anda mendapatkan banyak ide, Anda harus menyaringnya. Apa dasarnya? Yaitu kecocokan dengan ketrampilan atau pengetahuan Anda. Ingat, Anda harus kenal dengan bisnis Anda, minimal Anda tahu bahan atau unsur apa saja dan bagaimana cara menghasilkan produk atau jasa Anda. Ukurlah diri Anda sendiri dengan ide-ide Anda atau peluang yang sudah Anda dapatkan.
Bagian kedua, sikap dan persiapan pada diri Anda sendiri. Coba Anda bayangkan pada titik di mana rekan kita itu memberanikan diri keluar dari pekerjaan (lama)nya untuk berbisnis sendiri dan yang satu lagi memutuskan untuk buka bengkel. Ya, memang harus ada motif, dorongan dan tindakan nyata (aksi) untuk mewujudkan semuanya.
Uraian di atas kalau jadikan 'jimat', maka ingatlah A+C+T=ACT. Amati, artinya Anda harus mampu mengamati dan menangkap peluang. Cermati, peluang itu Anda kaji lebih dalam, cocokan dengan kemampuan dan ketrampilan Anda. Tetapkan hati, bulatkan tekad Anda, beranikan diri dan ambil keputusan untuk menerjuni bisnis Anda.
Dan terakhir, ACT, beraksi, ya wujudkan dengan mengambil langkah-langkah merealisasikannya, bukan di kepala dan di atas kertas saja.
Anda juga harus memiliki, atau setidaknya berkarakter seorang entrepreneur yang berhasil. Memiliki komitmen terhadap tugas/aktivitas yang telah disusun, mampu menangkap peluang, obyektif, selalu optimis pada situasi yang tak pasti/luar biasa, proaktif, pantang menyerah, dan berani mengambil risiko (tentu yang telah Anda perhitungkan). Inilah karakter-karakter entrepreneur.
Pertanyaan selanjutnya, biasanya adalah modal. Betul? Jangan Anda merasa kecil dengan sedikitnya modal yang Anda miliki. Belajarlah dari bisnis yang kecil dulu. Ada seorang penjual bakso dari Wonogiri yang sukses, yang pada awalnya dia hanya menjual bakso dorong, gerobaknya menyewa pula. Apapun bisnis Anda, kecil pun tak masalah, yang penting jujur, adil, dan halal.
Allah tak melihat keberhasilan Anda dari hasil akhirnya, tetapi bagaimana cara Anda mencapainya. Jika diniatkan karena ibadah, berhasil atau tidak bisnis Anda, tetap dihitung sebagai ibadah kan?
Setelah mulai menjalankan bisnis Anda, tentu Anda tak boleh berhenti menambah pengetahuan Anda baik mengenai produk atau jasa itu sendiri, dan juga pengetahuan manajemen bisnis. Anda harus mendapatkan ini dari berbagai media informasi yang ada, apa saja. Anda juga dapat mampir ke www.titianbisnis.com untuk mendapatkan informasi lebih lanjut.
Selamat bekerja dan mewujudkan usaha Anda! Indonesia membutuhkan banyak orang seperti Anda.
* Kiriman pertanyaan harus disertai alamat lengkap. Terima kasih. (Redaksi)
Diasuh oleh: Ir Sri Bramantoro Abdinagoro, MM (konsultan)
TITIAN consulting + learning
e-mail : probis2002@republika.co.id,
faksimile: 021-7983623
alamat surat: Ayo Berwirausaha, Suplemen Probis, HU Republika
Jl Warung Buncit Raya No 37, Jakarta 12510
09:47 Posted in Enterpreuner | Permalink | Comments (0) | Email this



The comments are closed.