24 March 2006

Succes is The Mind Game

Tahun 2006 ditengarai menjadi tahun penuh tantangan bagi banyak orang. Betapa tidak karena perekonomian secara makro masih akan wait and see karena berbagai penyesuaian, khususnya karena tingginya harga minyak. Sementara kondisi mikro perusahaan tentu saja akan terpengaruh.

Diperkirakan akan lebih banyak terjadi pemutusan hubungan kerja (PHK), sehingga kondisi keuangan kebanyakan orang akan kian terpuruk. Sementara bagi pemilik aset dan pemodal kondisinya bisa jadi hanya semakin sedikitnya peluang maupun justru bertambahnya peluang. Seperti kata pepatah Cina: krisis bukan saja berarti ancaman, melainkan juga peluang atau kesempatan. Sisi positif ini sebenarnya berlaku bagi kebanyakan orang meskipun sungguh benar adanya bahwa yang lebih bisa memanfaatkannya adalah mereka yang relatif lebih siap.

Yaitu mereka yang punya modal dan terutama kreativitas menghasilkan nilai tambah, keinginan berinovasi, terus berpikir alternatif dan tak bosan-bosannya mengusangkan diri. Cara paling prinsip adalah dengan terus mengamati, ‘membaca’ dan menyimak berbagai perkembangan yang terjadi.

Perlu digarisbawahi bahwa pengertian membaca tersebut adalah dalam makna paling harfiah hingga yang paling simbolik. Bahwa dalam dunia yang derapnya kini didominasi oleh kecepatan gerak bit-bit informasi, hanya bisa diimbangi tekad selalu mengasah kemampuan ‘membaca’.

Besar kemungkinan membaca ini hanya merupakan awal karena akan diperlukan langkah lanjutan yaitu menganalisis tren, menyimpulkan, membuat rencana serta merumuskan strategi sampai langkah implentasi di lapangan secara rinci untuk mencapai tujuan.

Sisi positif adanya peluang dalam krisis ini disebut berlaku bagi kebanyakan orang karena untungnya semua tantangan dan hambatan itu sesungguhnya hanya permainan persepsi belaka. Singkatnya seseorang bisa tetap termotivasi dalam kondisi apapun. Bahkan saat terancam di-PHK.

Tergantung RI
Praktisi NLP (Neuro Linguistic Programming) mendukung asumsi success is the mind game atau sukses adalah permainan pikiran. Maksudnya apapun yang terjadi dengan realitas eksternal (RE) seseorang, yang lebih penting adalah realitas internalnya (RI). Artinya efektif tidaknya orang itu memahami RE.

“Kalau Anda mau mengubah dunia apa yang dilakukan paling dulu? RI-nya to. Begitu mengubah RI, cara pandang Anda terhadap dunia berubah,” ungkap praktisi NLP Ronny F Ronodirdjo seraya menambahkan ironisnya banyak orang tak menyadari bahwa hampir semua yang dilakukan manusia adalah reaksi terhadap RI.

Pengertian RE adalah apapun yang masuk ke lima indera, baik lewat hidung, mata, telinga, tangan, akan diubah menjadi sinyal listrik (biolistrik) yang selanjutnya akan diberi makna dan ditanggapi oleh otak. Fakta yang ada di luar diri ini disebut realitas eksternal (RE) yang dalam istilah NLP disebut territory.

“Begitu masuk lewat indera, RE diubah menjadi realitas internal (RI) yang dalam psikologi disebut persepsi atau sudut pandang.” ujarnya sambil mencontohkan handphone (HP) usang di tangannya yang menurut orang lain mungkin kuno tapi baginya HP kesayangan yang meski kuno tapi masih enak dipakai.

“Jadi RE-nya sama. Tapi bagaimana kita merepresentasikan realita itu dalam pikiran masing-masing berbeda. Itulah RI yang dalam istilah NLP disebut map atau mental map atau peta pikiran. Jadi saat disebut map is not the territory artinya RI bukan RE. Nah ironisnya psikolog gagal memahami hal ini.”

Kebanyakan penderita sakit jiwa, kata dia, adalah orang-orang yang selalu mengira RI-nya adalah RE. “Orang sehat seperti kita kadang sadar kadang enggak, tapi kecenderungannya adalah RE dikira RI. Kalau orang sukses adalah orang yang bisa memilih RI.”

Ronny menambahkan, psikolog hampir selalu mengira manusia itu bereaksi terhadap RE, sehingga blaming-nya pasti di luar. Orang gagal, karena situasinya tidak memungkinkan. Situasi itu letaknya di RE, ada di luar. “Tapi ironisnya ada orang lain yang menjadikan itu sebagai pendorong keberhasilan.”

Bisa di-install dan diakses
Sikap mental yang bisa memilih RI tersebut jelas akan lebih mendukung kesuksesan di segala bidang. Hal ini tak lepas dari fakta bahwa bagi otak tak penting apakah hal yang dipikirkannya sekadar khayalan ataupun memang sungguh-sungguh kenyataan. Otak tak membedakan keduanya.

Tak peduli apakah itu hanya bayangan atau memang kenyataan, otak, ajaibnya, akan menganggapnya sebagai satu hal yang perlu mendapatkan perhatian. Hal yang selanjutnya dianggap penting yang kemudian dicarikan cara implementasinya sesuai dengan kondisi yang dibayangkan.

Bila imajinasi tentang bagaimana meraih sukses itu bisa dilakukan secara rinci tahap demi tahap setiap saat, termasuk berbagai emosi yang menyertainya, hampir secara otomatis kondisi ini akan menyertai setiap tindakan yang dilakukan. Dengan begitu, orang pun akan bisa benar-benar meraih sukses.

“Contoh kongkritnya, bila dalam hidup Anda pernah sangat percaya diri (pede). Terus Anda diminta presentasi di depan BOD itu tidak pede. Saya bisa membantu mengambil pede Anda saat sangat percaya diri itu, saya bawa dan di-install di waktu lain di saat mau presentasi itu Anda bisa mengakses lagi pede tadi. Itu me-modelling diri sendiri. bahwa imajinasi ini bisa di-install dan diakses lagi.”

Jadi, tandas Ronny, dalam NLP intinya Anda belajar menguasai pengalaman subjektif sehingga menjadi efektif dalam melihat dunia. Pikiran juga lebih efektif karena Anda menjadi master atau tuan atasnya. Modelling itu meniru, mengambil esensi exellency atau keunggulan orang atau diri sendiri agar bisa direplikasi di waktu dan tempat berbeda.

Namun pentingnya peran RI agak berbeda dengan hasil penelitian tentang bagaimana orang bisa tetap santai di bawah tekanan. Penelitian beberapa tahun lalu menunjukkan bahwa mereka yang bisa santai bukan mengantisipasi bagaimana bila situasi membaik melainkan bagaimana bila memburuk.

Pemikiran pengandaian ini adalah fakta tandingan (counterfactuals), suatu peristiwa yang tidak terjadi tapi dapat dengan mudah dibayangkan sebagai kejadian nyata. "Saat dalam semangat tinggi, kita ingin mempertahankan suasana hati itu (mood)."

Tandingan Lebih Buruk
Hal ini diungkapkan Lawrence Senna profesor psikologi pada Washington State University. Saat berpikir tentang masa lalu, tambahnya, orang secara otomatis berupaya mengatasi kecenderungan hilang semangat seperti "Paling tidak aku tidak mempermalukan diri sendiri."

Bila pikiran jelek ini tetap muncul, lanjut Senna, orang berupaya mengatasinya buruknya suasana hati dengan memunculkan fakta tandingan yang positif seperti "Sebaiknya aku ucapkan terima kasih."

Namun penelitian terbaru Senna menunjukkan bahwa orang dengan keyakinan diri (self-esteem) tinggi mengatasi masalah (cope) dengan lebih baik terhadap situasi negatif dengan secara instingtif menggunakan fakta tandingan yang memburuk.

"Hal ini tampaknya dilakukan untuk menciptakan gambaran cerah dari masa lalu," kata Senna yang mengadakan penelitian bersama timnya menggunakan klip musik dan film untuk memicu munculnya suasana hati baik dan buruk pada subyek.

Setelah klip ditayangkan, subyek diminta untuk mengingat kembali sebuah peristiwa masa lalu dan sepakat untuk melakukan fakta tandingan ke arah lebih baik atau lebih buruk menyangkut bagaimanan keduanya bisa punya akibat berbeda.

Orang yang suasana hatinya sedang bagus sering memberikan tanggapan dengan fakta tandingan yang mengarah ke hal lebih buruk. Sedangkan yang mood-nya sedang buruk, tambahnya, setidaknya bereaksi dalam dua cara.

"Bila orang orang dengan keyakinan rendah setuju untuk secepat mungkin dan hampir selalu dengan pernyataan yang memperburuk, subyek dengan keyakinan diri tinggi memilih pernyataan yang bisa meningkatkan mood-nya, tapi secara perlahan."

Hal ini, tandas Senna, memperlihatkan bahwa subyek yang yakin secara sadar mencoba untuk memindah dari fakta tandingan positif ke negatif untuk menggugah perasaan negatifnya."

Dengan itu, lanjutnya, mereka makin menyukai kondisi dirinya sendiri. Pada akhirnya, kata dia, orang semacam ini menjadi lebih terdorong untuk mencoba dan bisa terus menjaga suasana hatinya agar tetap positif.


* Rab A.B. penulis dan editor dengan pengalaman lebih dari 10 tahun. Kini ia adalah anggota dewan redaksi pada majalah bulanan Indonesian Tax Review Digest dan Buletin Bee Parent yang diterbitkan Lembaga Manajemen Formasi. Ia dapat dihubungi melalui e-mail: nauram@yahoo.com.

Shariah Principle on Management in Practice

What and how did the Islamic management grow to be shariah management ? This book described shariah management so clear, actual and easy to understand. Explaining the basis, concept and application of shariah management. How do the shariah decide on business relation, the attitude of the leader, the relationship between the leader and his employees and the solution of management conflict.

4 Hal yang Membuat Hidup Ini Makin Indah

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakaatuh,

Allah Maha Indah dan amat mencintai keindahan. Berarti siapapun yang rindu menjadi orang yang dicintai Allah kita harus mengenal apa yang namanya keindahan, karena keindahan adalah salah satu jalan agar kita dicintai oleh Allah.

Dan standar, kita itu suka pada keindahan. Allah menciptakan dunia ini indah bahkan surga saja diceritakan penuh keindahan. Memang sudah standar pada diri kita senang yang indah. Lalu mengapa hati yang cuma satu-satunya ini harus kita isi dengan kejelekan?

Jelek itu tidak pernah bersatu dengan keindahan. Kalau alam ini indah dan hati kita mencintai keindahan, niscaya akan terpancar pribadi yang indah.

Saudara-sadaraku sekalian.......

Harusnya keindahan semua yang kita lihat membuat hati kita indah dan kalau hati sudah indah maka terpancar keindahan dari diri kita. Nah, Rasulullah SAW juga ternyata indah. Rambutnya indah, matanya indah, suaranya indah, wajahnya indah dan yang paling mengesankan adalah pribadinya yang indah.

Kita manusia juga senang keindahan. Iklan sampo dijamin yang punya rambut indah. Kita berkunjung ke taman yang indah. Jarang kita berkunjung ke tempat pembuangan sampah.

Yang jadi masalah sekarang bagaimana keindahan itu ada pada diri kita?

Keindahan itu lekat dengan sesuatu yang bersih. Rumah megah, kotor hilang keindahannya. Rambut indah, kotor juga hilang keindahannya. Bersih bagian terpenting dari keindahan. Bersih lahir dan bersih batin. Ada orang yang bersih tapi hatinya busuk dijamin tidak akan indah. Maka siapapun yang ingin tampil indah, perkataan yang harus selalu ditanyakan, saya bersih atau tidak?

Karena kalau hati sudah busuk, pikiran busuk dan omongan juga busuk.

Kita semua pasti jadi tua. Kalau kita mengandalkan kecantikan keindahan lahir, itu tidak bisa dipertahankan. Kalau pertahanan keindahan sudah habis dan pribadi tidak indah maka tidak ada yang tersisa. Jadi siapapun diantara kita yang tidak pernah bertanya apakah mata ini sudah bersih, apakah pikiran kita sudah bersih, apakah pembicaraan kita bersih, apakah harta kita sudah bersih, apakah hati kita sudah bersih ? Kalau bersih belum menempati bagian dari diri kita tipis harapan.

"Amat beruntung orang yang gigih mensucikan dirinya dan merugi orang yang mengotorinya".

Sekarang kita lihat dulu apa komponen yang penting dari keindahan dan kebersihan ini.

1. KESABARAN

Orang yang tidak sabar, berkeluh kesah, menggerutu, orang yang mudah panik, emosional akan hilang keindahannya."Orang yang jamin sabar itu adalah orang yang yakin kami milik Allah dan bakal kembali kepada Allah". Kita tidak punya apa-apa Insya Allah adalah indah. Berarti orang yang tdak akan indah dalam hidupnya, orang yang merasa segalanya milik dirinya, merasa takut kehilangan, merasa takut rusak, takut diambil...panik dalam hidupnya.

Marilah belajar sabar karena sabat pangkal keindahan. Sabar dalam hal apa? Sabar dalam taat kepada Allah. Shalat sabat, tahajud sabar, melihat maksiat sabar. Ada orang yang dalam sholat sabar tapi lihat maksiat tidak sabar. Sabar ketika ditimpa musibah, sabar ketika sakit, tidak berkeluh kesah. Kesabaran itu pada pukulan pertama dalam ujian. Jadi kalau kita ingin melihat kesabaran kita lihat ketika datang yang pertama hantaman kepada kita dan kita tetap tenang. Insya Allah kesananya lebih mantap. Pendek kata keindahan akrab dekat dengan kesabaran. Tidak punya kesabaran hilang keindahan penampilan, keindahan rupa, keindahan rumah, keindahan harta bagi orang yang tidak sabar.

2. KELEMBUTAN

Kelembutan ada pada sesuatu akan menjadi indah. Maka bagi orang-orang yang ingin dicintai Allah, pertanyaan kedua adalah sampai sejauh mana kelembutan ada pada diri kita?

Orang yang kasar, bengis, kaku, keras ini tidak nyunnah. Rasulullah SAW adalah seorang petarung terbaik. Tidaklah bertempur kecuali beliau berada di baris terdepan. Tapi peperangan dan pertempuran yang dahsyat tidak merubah kehalusan budi pekertinya. Guru yang kasar jauh tidak disukai dibanding guru yang bertutur kata lembut. Ibu yang bengis, kasar sulit untuk mencuri hati anaknya.

Saudara-saudara sekalian...

Kita punya bahan yang lembut tapi kasar yang keluarnya, hilang keindahannya. Seindah apapun penampilan bila prilaku kesehariannya, kelakuannya kasar, kata-katanya kasar akan jatuh wibawanya, jatuh keindahannya. Ingat 2 minggu yang lalu pendamping diam itu emas adalah 4 S yaitu :

1. Senyum

2. Salam

3. Sapa, dan

4. Santun

Marilah kita upayakan kelembutan itu bagian dari sikap kita. Kalau memanggil seserorang, panggilah dengan panggilan yang paling halus. Subhanallah, kelembutan itu indah.

3. IKHLAS

Makin ikhlas, makin bersih hati, makin putus harapan selain kepada Allah SWT. Itu terpancar kebersihannya dari tutur kata dan prilaku. Indah keikhlasan itu. Makin bersih dari rasa ingin dihormati, dari rasa ingin dihargai, dari rasa ingin dipuji harus dengan cara terbaik.

Berbahagialah bagi ibu yang merdeka tidak berbuat kebaikan karena ingin dibalas budi oleh suami tapi berbuat kebaikan karena ingin dicintai Allah.

Orang yang ikhlas berbuat sekecil apapun kebaikan, Allah yang akan membersar-besarkannya, menurut Imam Ali. Insya Allah orang yang ikhlas dia akan puas dengan apa yang dilakukan, bukan puas dengan apa yang didapatkan. Orang yang ikhlas kesibukannya adalah bagaimana supaya yang dilakukan ini disukai Allah, terlepas dari orang lain menghargai atau memuji atau tidak.

4. MENGAMALKAN SUNNAH

Keindahan itu lekat kepada orang yang paling banyak mengamalkan sunnah-sunnah rasul sesudah yang fardhu. Amalan fardhu itu bagai bangunan yang kokoh, tiang, pondasi dan bangunan. Tapi bangunan ini jadi indah sesudah dicat, keramiknya bersih, pakai taman, pakai pagar, inilah amalan-amalan sunnah. Kita menunaikan yang fardhu Insya Allah kita menjadi pribadi yang kokoh tapi dengan amalan yang sunnah jadi pribadi yang kokoh dan indah. Jarang sholat tapi mengamalkan yang sunnah seperti pakai dasi tapi tidak pakai yang fardhu.

Jadi semakin banyak kita mengamalkan yang sunnah sesudah yang fardhu semakin indah. Makanya kita harus belajar tahu bagaimana Nabi Muhammad itu kesehariannya. Sampai hal yang kecil kita tiru Nabi Muhammad itu lambat laun pribadi kita jadi indah. Dari mulai bangun tidur senyum, doa, tata mulai bangun tidur. Dikamar mandi tidak berlama-lama, tidak bicara, itu sunnah.

Tertib sampai hal-hal yang paling kecil. Sudah ada aturannya semua.

Mulai sekarang miliki buku tentang Nabi Muhammad. Luangkan waktu untuk mengetahui bagaimana senyumnya, bagaimana santunnya, bagaimana kedermawanannya, bagaimana keberaniannya. Makin tahu tentang Nabi Muhammad pelan tapi pasti pribadi kita akan bergerak menjadi pribadi yang indah.

Mudah-mudahan dengan 4 hal tersebut, kita mulai memperindah topeng kita dengan kebersihan, kerapihan dan perawatan. Tapi yang paling penting dari itu kebersihan batin kita yaitu komponennya kesabaran, kelembutan, ikhlas dan mengamalkan yang sunnah sesudah fardhu.Wallahu'alam Mahabenar Allah, yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.

Semoga bermanfaat

"Utamakan SELAMAT dan SEHAT untuk duniamu, Utamakan SHOLAT dan ZAKAT untuk akhiratmu"

K.H Abdullah Gymnastiar / Aa Gym

BelajarBisnisSyar'i

Profesi Mulia yang Ditinggalkan Wanita


Imbalannya surga, dan penentu masa depan bangsa. Tapi mengapa banyak ditinggalkan perempuan-perempuan modern?

Urusan domestik, hingga saat ini masih menjadi cibiran orang. Pekerjaan urusan teknis kerumah-tanggaan ini hanya dianggap sepele dan dipandang sebelah mata saja oleh hampir seluruh lapisan masyarakat. Itu sebabnya kaum feminis memperjuangkan agar kaum wanita tidak dikaplingkan untuk urusan domestik saja. Kelompok ini sangat menginginkan peningkatan harkat dan martabat kaum wanita agar sejajar sebagai mitra kaum laki-laki.

Yang mereka definisikan sebagai peningkatan harkat dan martabat wanita itu, satu diantaranya adalah pembebasan kaum wanita dari pengkotakan peran sebagai ibu rumah tangga. Menurut mereka, peran tersebut memberikan citra rendah pada diri wanita, sehingga untuk mengangkat citra dirinya, mereka menuntut untuk lepas dari tanggung jawab yang dianggap memalukan itu.

Dianggap memalukan, salah satunya karena pekerjaan urusan domestik tersebut tidak menghasilkan pemasukan keuangan, padahal selama ini umumnya seseorang dihargai sesuai prestasinya dalam mengumpulkan uang. Apalagi secara sepintas, urusan domestik tersebut hanya berupa kegiatan teknis kasar dan kotor, sehingga tak pantas dikerjakan oleh orang terhormat.

Kewajiban siapa?

Opini yang berkembang di tengah masyarakat tentang citra buruk dan rendah dari pekerjaan urusan domestik ini, menjadi penyebab dari enggannya para wanita terpelajar untuk mengakuinya sebagai kewajibannya. Dan dengan berdalih dasar teori peran ganda suami, mereka menuntut agar bisa melepaskan diri dari tanggung jawab domestik tersebut.

Secara bijak, Islam sudah pula menyinggung permasalahan ini dalam pedoman hidup al-Qur'an dan al-Hadits. Abdul Halim Abu Syuqqah, menyebutkan dalam bukunya, Tahrirul Mar-ah fi `Ashir Risalah, bahwa seorang wanita berkewajiban mengurus rumah tangga dan anak-anaknya sebaik mungkin. Dengan demikian kegiatan profesi tidak boleh sampai menghalanginya melaksanakan tanggung jawab ini.

Dari Abdullah bin Umar ra dikatakan bahwa Rasulullah saw bersabda, "....dan seorang istri adalah pemimpin bagi rumah suami dan anak-anaknya, dan dia akan dimintai pertanggungjawaban tentang mereka......" (HR Bukhari Muslim)

Dari Abu Hurairah dikatakan bahwa Rasulullah bersabda, "Sebaik-baik wanita yang mengendarai unta adalah wanita Quraisy". Dalam riwayat lain disebutkan, "Wanita Quraisy yang saleh adalah wanita yang sangat menyayangi anaknya yang masih kecil dan sangat menjaga suaminya dalam soal miliknya." (HR Bukhari)

Jelas, posisi kaum ibu adalah sebagai 'pemimpin bagi rumah suami' dan 'pemimpin anak-anak'. Kalau orang sekarang kerap menyebut istilah pemimpin dengan sebutan direktur atau manajer, maka tak salah pula jika profesi ibu di rumah pun disebut sebagai manajer rumah tangga. Ruang lingkup tugasnya adalah memelihara rumah dan harta yang ada di dalamnya, dan merawat anak-anak. Tentu saja, urusan domestik ada di dalamnya. Kelak, kaum ibu akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah swt tentang kepemimpinannya itu.

Dalam pandangan Islam, urusan domestik keluarga memiliki peran dan fungsi yang penting dan terhormat dalam mendukung kesuksesan keluarga. Begitu hebatnya Islam menjunjung tinggi pekerjaan ini, hingga menyamakan derajatnya dengan kewajiban pergi berperang bagi kaum laki-laki, yang menjanjikan syahid bagi mereka.

Anas bin Malik menceritakan sebuah kisah, "Satu hari beberapa wanita mendatangi Rasulullah saw dan bertanya, "Ya Rasulullah. Kaum lelaki kembali dengan membawa pahala perjuangan di jalan Allah; sedang kami tidak mempunyai cara untuk dapat seperti mereka?" Mendengar ini beliau pun bersabda: "Jangan takut, tenanglah kalian! Mengurus rumah tangga kalian masing-masing dengan sungguh-sungguh dapat mengejar pahala syahid di jalan Alah seperti mereka."

Walaupun pekerjaan domestik ini tak memberikan penghasilan secara langsung, tetapi memberikan manfaat sangat besar bagi seluruh anggota keluarga. Rumah yang bersih, sehat, rapi, indah dan nyaman ditinggali, tak mungkin tercipta tanpa dukungan keahlian urusan domestik. Dari surga dunia inilah muncul ide-ide brilyan dari seluruh anggota keluarga tersebut dalam bidang masing-masing. Ayah menemukan semangat bekerja dari kenyamanan tidur dan istirahatnya di rumah. Anak-anak pun menemukan keriangannya bermain dan belajar dari suasana rumah yang ditata bersih dan menyenangkan. Anda yang ingin lebih menyelami makna pentingnya urusan domestik ini, cobalah untuk berhenti satu atau dua hari saja untuk tidak menyapu dan mengepel rumah, tidak mencuci dan menyeterika baju, serta tidak memasak di dapur. Bagaimana jadinya keluarga Anda?

Satu poin lagi untuk urusan domestik yang kerap dianggap sepele, adalah merawat dan mendidik anak. Salah sama sekali jika menganggap ini hal yang mudah dan remeh. Sebuah anggukan wajah, atau sekedar senyumam di ujung bibir, juga belaian tangan ibu di pundak anak, ternyata sangat menentukan bagi puluhan ribu hari berikutnya yang masih harus ia lewati. Satu detik keikhlasan ibu merawat anak, bisa menjadi bibit keuntungan jutaan rupiah yang kelak didapatkan anak dari kesuksesannya setelah dewasa.

Beratnya beban urusan domestik ini, nampaknya seimbang dengan janji syahid yang diberikan oleh Allah swt kepada kaum ibu yang menunaikannya dengan baik. Pekerjaan ini bisa menjadi salah satu alternatif tercepat memperoleh surga bagi mereka. Begitu mulianya pekerjaan ini sehingga Rasulullah memberikan dorongan penuh kepada putri tercintanya, Fatimah ra, untuk tidak meninggalkan peran ini, walau seberat apapun beban yang harus
ditanggungnya.

Fatimah sang putri, yang bersuamikan Ali bin Abi Thalib, hidup dalam keadaan miskin, sehingga ia harus membanting tulang untuk mengerjakan semua pekerjaan rumah tangga. Diriwayatkan Abu Daud bagaimana Ali mengisahkan tentang istrinya ini, "Suatu ketika Fatimah putri Nabi saw berada di dekatku. Dia memutar gilingan hingga lecet tangannya, dia memanggul girbah air hingga lecet pundaknya, dan dia menyapu rumah hingga berdebu pakaiannya." Dalam riwayat Abu Daud yang lain ditambahkan; "Fatimah membuat roti sehingga warna mukanya berubah (terkena arang)."

Suatu ketika Ali mendesak istrinya untuk memohon kepada ayahandanya agar diberi bantuan seorang hamba yang diperoleh Rasulullah saw sebagai hasil jarahan perang, demi meringankan pekerjaan-pekerjaannya. Namun Rasulullah menolak permintaan putri tercintanya itu, sambil membesarkan hati Fatimah dan Ali dengan mengatakan, "Maukah kalian aku beritahu mengenai sesuatu yang lebih baik dari yang kalian minta? Apabila kalian sudah siap di tempat tidur kalian, maka hendaklah kalian baca tasbih tiga puluh tiga kali, tahmid tiga puluh tiga kali, dan takbir tiga puluh empat kali. Hal itu lebih baik buat kalian dari pada seorang pelayan." (HR Bukhari dan Muslim).

Rupanya beliau menginginkan Fatimah memperoleh surganya dengan melalui ujian dalam rumah tangganya tersebut.

Apa Kewajiban Suami?

Suami telah diberi amanah oleh Allah untuk menjadi pemimpin keluarga (An Nisa' 24). Agar kewajiban itu dapat terlaksana, maka istri sebagai anggota keluarga wajib mendukung kewajiban suami tersebut. Bagaimana caranya memberi dukungan? Yaitu dengan memberikan ketaatannya kepada sang pemimpin keluarga. Untuk mempertegas hal tersebut, melalui beragam haditsnya, Rasulullah telah mempertegas kewajiban istri untuk taat kepada suami. Semua itu diatur agar kepemimpinan suami bisa terlaksana dengan baik. Dianalogikan dengan keseimbangan tersebut, maka jika ternyata istri mengemban kewajiban menjadi manajer rumah tangga yang mengurus anak dan urusan domestik rumah tangga, maka suami pun wajib pula mendukungnya. Sama persis seperti dukungan yang diberikan istri untuk taat kepadanya, dalam rangka mendukung kewajibannya sebagai pemimpin keluarga. Lantas, bagaimana bentuk dukungan yang wajib diberikan suami untuk menyukseskan tugas istri dalam menangani urusan domestik?

Yaitu, dengan menyediakan fasilitas yang dibutuhkan istri dalam melaksanakan tugasnya tersebut. Kewajiban suamilah untuk mencukupi fasilitas tersebut, sesuai dengan kemampuannya dalam mencari nafkah. Keberadaan fasilitas seperti mesin cuci, almari es dan kompor gas, misalnya, tentu saja akan sangat membantu meringankan pekerjaan urusan domestik. Atau dengan menggaji orang yang membantu meringankan pekerjaan teknis operasional rumah tangga sehari-hari. Semakin banyak fasilitas bisa diberikan tentu lebih baik, karena akan meringankan beban istri, sehingga istri bisa memiliki waktu dan tenaga lebih banyak untuk bisa dipergunakan menangani pekerjaan-pekerjaan lain baik untuk keluarga ataupun untuk ummat.

Rasulullah saw sendiri menyediakan pelayan khusus untuk mengatur urusan kerumahtanggaan istri-istri beliau. Sementara masing-masing istri pun memiliki pula budak-budak perempuan yang senantiasa menemani dan memberikan bantuan. Hal ini membuat Aisyah ra bisa meluangkan waktu untuk mempelajari berbagai sisi keilmuan dan melayani kebutuhan kaum muslimah sehingga nantinya ia menjadi ahli hadits dan menjadi guru dari banyak sahabat. Istri Rasulullah saw yang lain, seperti Hafshah, sempat mempelajari keahlian menulis kaligrafi, sementara Zainab berkonsentrasi membuka usaha ketrampilan tangan di rumahnya sehingga bisa memperoleh penghasilan sendiri.

Lantas bagaimana jika nafkah yang diperoleh suami tak mencukupi untuk memberikan fasilitas tersebut? Tak mengapa, karena banyaknya fasilitas tak bisa ditetapkan dengan standar tertentu. Semuanya tergantung dari perolehan penghasilan masing-masing keluarga. Jika memang rejeki keluarga tersebut sedikit, maka suami wajib mendukung tugas istri dengan memberikan bantuan langsung.

Rasulullah saw memberi contoh dengan sesekali mengurus sendiri keperluan-keperluannya. Beliau menjahit sendiri baju-baju yang sobek. Tentang bantuan itu, Aisyah berkata, "Beliau yang menjahit kainnya, menjahit sepatunya, dan mengerjakan apa yang biasa dikerjakan oleh kaum laki-laki di rumah mereka." (HR Bukhari)

Dari al-Aswad, dia berkata, "Aku pernah bertanya kepada Aisyah mengenai apa yang dilakukan oleh Nabi saw di rumah beliau." Aisyah mengatakan, "Beliau biasanya suka membantu urusan keluarganya. Lalu bila waktu shalat tiba, beliau pergi untuk mengerjakan shalat." (HR Bukhari)

Artikel lain dapat anda jumpai di Belajar Bisnis Sesuai Syariah

23 March 2006

Pelajaran Pertama Kepemimpinan

Seorang raja yang sudah memasuki usia senja sedang mempersiapkan putranya agar suatu ketika kelak dapat menggantikan dirinya. Ia mengirim putranya pada seorang bijak untuk belajar mengenai kepemimpinan.

Setelah menempuh perjalanan panjang, bertemulah putra mahkota ini dengan si orang bijak. ''Aku ingin belajar padamu cara memimpin bangsaku,'' katanya. Orang bijak menjawab, ''Masuklah engkau ke dalam hutan dan tinggallah disana selama setahun. Engkau akan belajar mengenai kepemimpinan.''

Setahun berlalu. Kembalilah putra mahkota ini menemui si orang bijak. ''Apa yang sudah kau pelajari?'' tanya orang bijak. ''Saya sudah belajar bahwa inti kepemimpinan adalah mendengarkan,'' jawabnya. ''Lantas, apa saja yang sudah engkau dengarkan?'' ''Saya sudah mendengarkan bagaimana burung-burung berkicau, air mengalir, angin berhembus dan serigala melonglong di malam hari,'' jawabnya. ''Kalau hanya itu yang engkau dengarkan berarti engkau belum memahami arti kepemimpinan. Kembalilah ke hutan dan tinggallah disana satu tahun lagi,'' kata si orang bijak.

Walaupun penuh keheranan, putra mahkota ini kembali mengikuti saran tersebut. Setahun berlalu dan kembalilah ia pada si orang bijak. ''Apa yang sudah kau pelajari,'' tanya orang bijak. ''Saya sudah mendengarkan suara matahari memanasi bumi, suara bunga-bunga yang mekar merekah serta suara rumput yang menyerap air. ''Kalau begitu engkau sekarang sudah siap menggantikan ayahmu. Engkau sudah memahami hakekat kepemimpinan,'' kata si orang bijak seraya memeluk sang putra mahkota.

Syarat utama kepemimpinan adalah kemampuan mendengarkan. Manusia diciptakan dengan dua telinga dan satu mulut. Ini adalah isyarat bahwa kita perlu mendengar dua kali sebelum berbicara satu kali. Mulut juga didisain tertutup sementara telinga kita dibuat terbuka. Ini juga pertanda bahwa kita perlu lebih sering menutup mulut dan membuka telinga.

Prinsip dasar inilah yang sebetulnya perlu dipahami oleh seorang pemimpin dimana pun ia berada, apakah ia memimpin negara, perusahaan, organisasi, rumah tangga maupun diri sendiri. Semua masalah yang terjadi di dunia ini senantiasa bermula dari satu hal: Kita terlalu banyak bicara tapi kurang mau mendengarkan orang lain. Kita memiliki terlalu banyak statement (pernyataan), tetapi terlalu sedikit statesman (negarawan) yang ditandai dengan kemauan untuk mendengarkan pihak lain.

Tetapi, mendengarkan dengan telinga sebenarnya baru merupakan tingkat pertama mendengarkan. Seperti yang ditunjukkan dalam cerita di atas, seorang pemimpin bahkan dituntut untuk dapat mendengarkan hal-hal yang tak bisa didengarkan, menangkap hal-hal yang tak dapat ditangkap, serta merasakan hal-hal yang tak dapat dirasakan oleh orang kebanyakan.

Seorang pemimpin perlu mendengarkan dengan mata. Inilah tingkat kedua mendengarkan. Dalam proses komunikasi ada banyak hal yang tidak dikatakan tapi sering ditunjukkan dengan tingkah laku dan bahasa tubuh. Orang mungkin mengatakan tidak keberatan memenuhi permintaan Anda, tapi bahasa tubuhnya menunjukkan hal yang sebaliknya.

Seorang karyawan yang merasa gajinya terlalu rendah mungkin tidak menyampaikan keluhannya dalam bentuk kata-kata tetapi dalam bentuk perbuatan. Seorang yang merasa bosan dengan lawan bicaranya juga sering menunjukkan kebosanan itu lewat gerakan tubuhnya. Nah, kalau Anda tidak dapat menangkap tanda-tanda ini, Anda belum memiliki kepekaan yang diperlukan sebagai pemimpin.

Tingkat ketiga adalah mendengarkan dengan hati. Inilah tingkat mendengarkan yang tertinggi. Penyair Kahlil Gibran menggambarkan hal ini dengan mengatakan: ''Adalah baik untuk memberi jika diminta, tetapi jauh lebih baik bila kita memberi tanpa diminta.'' Kita memberikan sesuatu kepada orang lain karena penghayatan, rasa empati dan kepekaan kita akan kebutuhan orang lain. Disini orang tak perlu mengatakan atau menunjukkan apapun. Kitalah yang langsung dapat menangkap apa yang menjadi kebutuhannya. Komunikasi berlangsung dari hati ke hati dengan menggunakan ''kecepatan cahaya''.

Sayang, amat jarang pemimpin di Indonesia yang memiliki kepekaan ini. Jangankan di level ketiga, untuk sampai ke level pertama yaitu mendengarkan dengan telinga saja masih banyak yang belum mampu. Lihatlah apa yang terjadi pada masyarakat kita. Berbagai bencana yang dialami masyarakat, mulai dari banjir, gempa bumi, flu burung, hingga demam berdarah tidak ditanggapi pemerintah dengan serius.

Bahkan himbauan dari berbagai kelompok masyarakat kepada para politisi tertentu agar tidak mencalonkan diri karena tergolong politisi busuk dan pelaku KKN dianggap sebagai angin lalu. Orang-orang ini - bahkan yang sudah terbukti tidak mampu sekalipun - masih ngotot mencalonkan dirinya sebagai presiden. Karena itu, marilah kita berdoa agar negara ini tidak lagi dipimpin oleh orang yang ''tuli'', ''bisu'' dan ''buta''. Apalagi oleh orang yang ''buta'' hati nuraninya dan hanya memikirkan kepentingan dirinya sendiri.


Oleh: Arvan Pradiansyah, pengamat kepemimpinan dan penulis buku You Are A Leader!
e-mail: kepemimpinan@republika.co.id
faksimile: 021-7983623

Eropa dan Kekhawatiran Pada Para Mualaf

http://www.republika.co.id

Para mualaf di Barat kini diawasi secara ketat. Tudingan membantu terorisme membatasi ruang gerak mereka. Masyarakat Barat terus saja dicekam ketakutan. Islamophobia dan kekhawatiran terhadap serangan teroris radikal tak kunjung surut bahkan makin membesar. Kini, mereka seolah menambah lagi satu musuh baru, orang-orang Barat yang beralih ke Islam. Surat kabar Amerika Serikat, The New York Times, mengangkat besar-besar tulisan tentang mualaf 'berbahaya' itu dalam laporan utamanya. Mereka mengawali ceritanya dari kisah Courtailler bersaudara tumbuh besar di sebuah desa yang terletak di lereng pegunungan Alpine.

Dua tokoh berita, David dan Jerome Courtailler, adalah putra dari seorang tukang daging yang bangkrut. Frsutrasi menyeret siswa drop out sekolah Katolik ini dalam dunia kenakalan remaja. Alkohol dan narkotika menjadi teman akrab, sampai mereka bertemu Islam. Namun setelah lima tahun dua bersaudara ini memutuskan memeluk agama Islam di sebuah masjid di Inggris, tepatnya di kota Brighton, tahun 1996, mereka harus menerima kenyataan mendapat tuduhan terkait jaringan terorisme Islam di Eropa. Kini, David yang berusia 28 tahun, sudah meringkuk di tahanan. Demikian pula Jerome, 29, ditahan pihak kepolisian Belanda sehari setelah keluar dakwaan resmi dari pengadilan bahwa dirinya adalah anggota jaringan teroris internasional. Kedua bersaudara itu merupakan bagian dari kelompok-kelompok yang telah menemukan syiar Islam di Eropa.

Dan kini, mereka, para mualat kulit putih itu, harus dihadapkan pada tuduhan tanpa bukti bahwa mereka 'menjadi bibit-bibit baru jaringan terorisme internasional'. Koran NYT menulis bagaimana para pejabat-pejabat di banyak negara Eropa, khususnya mereka yang menangani langsung kegiatan kontra teroris, menjadi risau. Pasalnya, 'anggota baru' itu akan sangat sulit dideteksi serta diawasi. Akibatnya, para mualaf ini sekarang diawasi ketat karena kekhawatirkan menjadi bagian kelompok ekstrimis. Untuk upaya pencegahan dini, banyak di antara para mualaf Eropa tersebut terpaksa ditangkap dengan tuduhan terorisme. Ini mengingat pengalaman dan kemampuan mereka, seperti ditakutkan pihak berwenang, dapat menimbulkan masalah yang lebih besar.

"Mereka yang baru pindah agama ini berpotensi dimanfaatkan oleh kalangan jihad," seru Jean-Luc Marret, ahli terorisme dari Strategic Research Foundation, di Paris. "Sejak dulu kelompok tersebut sudah diperbantukan untuk mendukung penyediaan logistik dan sebagainya, namun kini telah berkembang dalam skala yang lebih luas." Harus diakui, Islam adalah agama yang paling cepat perkembangannya di Eropa. Meski belum ada data konkret, akan tetapi para ahli memperkirakan jumlah masyarakat Eropa yang pindah agama dan menjadi Muslim meningkat pesat sejak peristiwa 11 September 2001. Laporan dari badan intelejen dalam negeri Perancis yang diterbitkan oleh harian Le Figaro, memperkirakan tahun lalu ada sekitar 30 ribu hingga 50 ribu mualaf baru di Perancis.

Menariknya, peningkatan tersebut justru dipicu oleh maraknya kampanye anti teroris. Antoine Sfeir, seorang sarjana asal Perancis yang menulis sebuah buku mengenai fenomena tersebut, memberikan penjelaskan. Sebagian kecil mereka yang pindah agama, terdiri dari kaum muda, yang malah melihat gelombang terorisme Islam ini sebagai "bentuk perjuangan melawan kaum berada dan penguasa oleh pihak tertindas di planet ini." Dia membenarkan sebagian kecil dari orang-orang yang beralih ke Islam ini kemudian bersimpati terhadap gerakan terorisme dan bahkan turut serta mendukung aktivitas kekerasan.

Pihaknya mengklaim sudah menemukan sejumlah kelompok mualaf militan hingga kini. Meski hanya sejumlah kecil dari mereka yang diindikasikan terkait dengan aktivitas terorisme, namun pihak kepolisian tetap memandang serius serta menilainya sebagai ancaman potensial. "Individu-individu dengan mental dan jiwa bermasalah yang lantas beralih ke Islam sangat rentan masuk dan terlibat pada jaringan teror," demikian bunyi laporan intelejen itu seraya menambahkan kelompok radikal sengaja merekrut para mualaf karena mereka dapat melintas perbatasan negara dengan mudah, menyewa kamar hotel, dan penginapan serta kemudahan guna penyediaan kebutuhan logistik.

Tak hanya terjadi di Eropa
Seperti dikutip dari harian NYT edisi 19 Juli 2004, fenomena kecurigaan terhadap mualaf juga terjadi di belahan dunia lainnya. Seorang supir taksi di Australia kelahiran Inggris, Jack Roche, yang pindah agama ke Islam, dilaporkan pernah dilatih di Afganistan dan kembali ke Australia untuk selanjutnya dipenjara selama sembilan tahun karena percobaan pemboman kedutaan Israel di Canberra. Hal serupa di Amerika Serikat ketika Jose Padilla ditahan oleh pihak berwajib di sana dengan tuduhan merencanakan aksi terorisme. Dia memeluk Islam sejak tahun 1992 ketika dipenjarakan di Florida.

David dan J‚r“me Courtailler, dua bersaudara asal Perancis tadi, dapat bepergian secara bebas ke negara-negara Uni Eropa dengan tidak terlalu menarik perhatian aparat keamanan, tidak seperti halnya pengawasan ketat yang kerap dilakukan terhadap pemuda asal Timur-Tengah dan Afrika Utara. Pada sebuah kesempatan wawancara, seorang pejabat senior di dinas anti teror Perancis mengatakan para mualaf militan ini beralih ke Islam dengan berbagai macam cara. Namun kebanyakan adalah akibat kontak dan hubungan erat dengan kaum militan Muslim di penjara-penjara Eropa, dimana populasi tahanan Muslim memang meningkat.

Seperti misalnya Richard Reid, yang kemudian dikenal sebagai 'pembom sepatu dari Inggris', menjadi mualaf juga ketika dia dipenjara. Sekedar informasi, populasi penghuni penjara di Perancis saat ini terdiri dari 50 persen umat Muslim. Pintu masuk lain menuju Islam adalah melalui kelompok Jamaah Tabligh, yang dibentuk di India sekitar 75 tahun lalu untuk memperkenalkan agama Islam di tengah masyarakat mayoritas Hindu. Banyak kalangan di Eropa menilai Jamaah Tabligh tersebut telah berkembang menjadi jaringan yang memiliki pengikut baru terbesar di dunia. Menurut harian tersebut, Jamaah Tabligh juga seringkali mengirimkan sejumlah mualaf untuk mendalami pendidikan agama ke Arab Saudi atau Pakistan.

Beberapa alumni Jamaah Tabligh asal Barat yang terkenal, termasuk di antaranya John Walker Lindh, seorang warga Amerika yang ditangkap ketika berperang bersama pasukan Taliban di Afganistan tahun 2002 lalu. Pengaruh dari keluarga juga berperan cukup besar untuk menarik mereka beralih menjadi Muslim. Terutama di Perancis, dimana pernikahan beda agama antara penganut Kristen dan Islam dikabarkan meningkat secara signifikan, atau akibat pengaruh lingkungan tempat tinggal yang didominasi komunitas pemeluk Muslim. Benarkah apa yang dituduhkan mereka? Muhammad Ghaffari, pakar lingkungan yang juga aktivis Islamic Center of Tallahassee menyatakan, tuduhan itu makin memojokkan posisi Muslim dan mualaf khususnya.

Tensi kebencian terhadap Muslim sejak NYT menurunkan tulisan itu, meningkat kembali. ''Padahal, jangan hanya karena kaum militan salah, maka seluruh umat Islam dinayatakan salah,'' ujarnya. Ia menyayangkan munculnya tudingan-tudingan semacam itu dan mengkahawatirkan bakal bertambahnya angka kekerasan terhadap kaum Muslim. Data The Council on American-Islamic Relations, sebuah lembaga perlindungan HAM, menyebut, sepanjang tahun 2003 terjadi lebih dari 1.000 insiden yang berpangkal pada sentimen agama. Angka ini meningkat hampir 50 persen, dari 600 kasus yang dilaporkan pada tahun 2002. ( yus\iol\newyorktimes )

Children Of Heaven

Ali Mandegar adalah seorang anak dari keluarga miskin, namun cerdas dan rajin membantu kedua orang tuanya. Suatu hari Ali berbelanja ke toko setelah mengambil sepatu adiknya, Zahra yang baru selesai diperbaiki. Di toko, tanpa sengaja sepatu itu terambil oleh seorang pemulung. Ali dan Zahra sangat sedih kehilangan sepatu itu.

Sebagai pertanggungjawabannya, Ali memberikan sepatunya untuk dipakai Zahra bersekolah di pagi hari, lalu bergantian ia memakainya untuk bersekolah di siang hari. Ini mengakibatkan Ali sering terlambat masuk sekolah dan mendapat masalah. Suatu hari diadakan perlombaan lari jarak jauh antar sekolah dengan hadiah ketiga berupa sepatu olah raga. Ali sangat bersemangat untuk mengikuti perlombaan ini. Namun ia terlambat mengikuti pendaftaran tes perhituangan kecepatan lari di sekolahnya. Ia berusaha membujuk guru olah raganya agar diizinkan mengikuti perlombaan ini, karena ia sangat membutuhkan sepatuitu, yang rencananya akan ditukar dengan sepatu wanita, untuk diberikan kepada Zahra, adiknya tercinta.

Bisakah Ali mengikuti perlombaan ini? Apakah ia akan mendapatkah hadiah ketiga berupa sepatu olah raga tersebut? Amir Farrokh Hashemian berperan prima sebagai Ali Mandegar dalam drama menyentuh karya Majid Majidi yang memenangkan berbagai penghargaan internasional, antara lain Montreal World Film Festival, Newport Internasional Film Festival, dan Silver Screen Awards di Singapore Internasional Film Festival, serta masuk nominasi Piala Oscar pada Academi Awards 1999 untuk Best Foreign Language Film.

13:30 Posted in Film | Permalink | Comments (0) | Email this

Candi Muara Takus

Lokasi : Kecamatan XIII Koto
Kabupaten : Kampar

Kompleks candi ini terletak di desa Muara Takus, Kecamatan XIII Koto Kampar atau jaraknya kurang lebih 135 kilometer dari Kota Pekanbaru. Jarak antara kompleks candi ini dengan pusat desa Muara Takus sekitar 2,5 kilometer dan tak jauh dari pinggir sungai Kampar Kanan.

Kompleks candi ini dikelilingi tembok berukuran 74 x 74 meter diluar arealnya terdapat pula tembok tanah berukuran 1,5 x 1,5 kilometer yang mengelilingi kompleks ini sampal ke pinggir sungai Kampar Kanan. Di dalam kompleks ini terdapat pula bangunan candi Tua, candi Bungsu dan Mahligai Stupa serta Palangka. Bahan bangunan candi terdiri dari : batu pasir, batu sungai dan. batu bata. Menurut sumber tempatan, batu bata untuk bangunan ini dibuat di desa Pongkai, sebuah desa yang terletak di sebelah hilir kompleks candi. Bekas galian tanah untuk batu bata itu sampai saat ini dianggap sebagai tempat yang sangat dihormati penduduk. Untuk membawa batu bata ke tempat candi, dilakukan secara beranting dari tangan ke tangan. Cerita ini walaupun belum pasti kebenarannya memberikan gambaran bahwa pembangunan candi itu secara bergotong royong dan dilakukan oleh orang ramai.

Selain dari candi Tua, candi Bungsu, Mahligai Stupa dan Palangka, di dalam kompleks candi ini ditemukan pula gundukan yang diperkirakan sebagai tempat pembakaran tulang manusia. Diluar kompleks ini terdapat pula bangunan-bangunan (bekas) yang terbuat dari batu bata, yang belum dapat dipastikan jenis bangunannya.

Kompleks candi Muara Takus, satu-satunya peninggalan sejarah yang berbentuk candi di Riau. Candi yang bersifat budhistis ini merupakan bukti pernahnya agama Budha berkembang di kawasan ini beberapa abad yang silam. Kendatipun demikian, para pakar purbakala belum dapat menentukan secara pasti kapan candi ini didirikan. Ada yang mengatakan abad kesebelas, ada yang mengatakan abad keempat, abad ketujuh, abad kesembilan dan sebagainya. Tapi jelas kompleks candi ini merupakan peninggalan sejarah masa silam.

Bandung Lautan Belanja

Bandung, siapa yang tak kenal dengan jantung Jawa Barat ini. Sejak Gubernur Jenderal Hindia Belanda Herman Willem Daendels menancapkan tongkatnya di pinggir Sungai Cikapundung, Kota Bandung dikenal sebagai tempat peristirahatan. Para petinggi di Nusantara kala itu kerap menghabiskan waktu di kawasan berudara sejuk ini. Bahkan, Parijs van Java atau Paris-nya Pulau Jawa melekat di kota yang berulang tahun pada 25 September itu.

Jika Daendels kembali kini, ia pasti kagum. Cita-citanya untuk membangun sebuah kota sudah terwujud. Lokasi di mana tongkatnya menancap pada 1810, kini menjadi titik pusat atau Kilometer 0 Kota Bandung, tepat di seberang Alun-alun Kota. Wilayah seluas 16.767 hektare ini bahkan menjadi salah satu kota terbesar di Indonesia.

Mulut Daendels pasti kembali menganga. Betapa tidak, Bandung berkembang sangat pesat meski pernah dibumihanguskan pada 24 Maret 1946. Tak hanya itu, landmark kota yakni Gedung Sate atau Gouverments Bedrijven kini tak sendiri. Jembatan Pasupati yang menghubungkan Bandung Utara dan Timur melewati lembah Cikapundung ikut menjadi kebanggaan warga Kota Kembang.

Dunia wisata pun tak kalah bergeliat. Selain menyuguhkan keindahan alam, Bandung menawarkan wisata belanja yang tak bisa dijumpai di kota lain di Tanah Air. Apalagi buat pencinta dunia fashion. Beragam busana dengan tren mutakhir bisa didapat di berbagai factory outlet (FO) yang menjamur di pelosok Bandung. Selain itu, harga yang ditawarkan pun cukup menggiurkan. Maklum, barang yang ditawarkan diklaim langsung dikirim dari pabrik.

Saat ini tak kurang 200 FO berdiri di Kota Bandung. Uniknya, FO-FO ini memberikan pelayanan dengan tema yang beragam. Ada FO yang khusus membidik konsumen remaja, anak-anak, termasuk FO khusus lelaki atau pakaian dalam. Sebagian besar, toko pakaian ini berada di kawasan Bandung Tengah, yakni Jalan R.E. Martadinata, Jalan Aceh, dan Jalan Sumatera. Tempat sejenis bisa ditemui dengan mudah di kawasan Bandung Utara seperti Jalan Ir. H. Juanda (Dago) dan Jalan Dr. Setiabudhi.

Berbelanja di FO jelas berbeda dibanding membeli di toko-toko pakaian biasa. Selain murah, model pakaian yang ditawarkan sangat terbatas. Jadi kecil kemungkinan ada orang yang memakai pakaian serupa alias tak bakal pasaran. Suasana FO yang menyenangkan pun bisa menjadi penawar ketegangan urat syaraf setelah seharian beraktivitas.

Tak hanya di FO, pakaian murah tapi keren juga bisa ditemukan di Cimol. Pasar kaki lima ini menawarkan berbagai jenis pakaian sisa ekspor mulai dari kaos, celana jins, hingga jaket. Harganya jangan ditanya. Sepotong celana blue jeans bisa dibawa pulang hanya dengan membayar Rp 5 ribu sampai Rp 10 ribu. Tentu saja setelah adu tawar yang cukup seru.

Sesuai namanya, Cimol atau Cibadak Mol--plesetan dari mall--semula berada di Jalan Cibadak, tak jauh dari Alun-alun Kota. Namun, kawasan tersebut ditertibkan Pemerintah Kota Bandung. Cimol dipindah ke kawasan Kebon Kalapa. Cimol kembali digeser ke kawasan Tegallega sebelum akhirnya direlokasi ke Gedebage.

Tak hanya pakaian, jajan makanan khas Bandung sangat sayang dilewatkan. Gurihnya siomay hingga baso tahu goreng (batagor) wajib mampir di lidah jika berkunjung ke Bandung. Kesegaran yoghurt pun bisa dinikmati sambil menghirup kesegaran udara Lembang. Jagung bakar pun siap menemani wisatawan melewati malam yang indah di Kota Bandung.

Pakaian dengan mode terkini ada di tangan. Perut pun sudah terisi. Oleh-oleh penganan juga berjibun. Pengalaman di Bandung yang eksentrik menjadi kenangan tak terlupakan. Daendels pun mungkin tersenyum saat melaju di Tol Cipularang meninggalkan Kota Bandung kembali ke Batavia yang kini bisa ditempuh hanya dalam 2,5 jam

The Attractor Factor: 5 Langkah Untuk Mewujudkan Kekayaan Yang Anda Idamkan


The Attractor Factor: 5 Langkah Untuk Mewujudkan Kekayaan Yang Anda Idamkan


Buku yang pada mulanya merupakan buklet kecil berjudul Spiritual Marketing ini dikembangkan ke dalam bentuk buku karena permintaan para pembacanya yang merasa impian mereka tercapai setelah menerapkan 5 langkah sederhana Joe Vitale (Bab “Bukti”, hal. 9).

Walau dalam buku ini ada kisah tentang orang-orang yang mendapat mobil dan rumah, menyembuhkan diri dari kanker, menjalin hubungan baru, dan menarik lebih banyak uang, Vitale berfokus pada menarik kekayaan dalam bisnis karena, menurutnya, terdapat kekurangan spiritual yang serius di dunia bisnis. Untuk mengukur tingkat kesadaran kemakmuran pembaca, ia memberikan daftar pertanyaan ya/tidak pengukur IQ Kemakmuran (Bab “Berapa IQ Kemakmuran Anda?”, hal. 61). Beberapa di antara ke-15 pertanyaan itu adalah:

1. Saat tumbuh dewasa, pernahkah Anda diberi tahu hal-hal seperti, “Kita mungkin tidak kaya, tapi setidaknya kita jujur!”?

2. Apakah pendidikan religius Anda mengajarkan bahwa sangatlah mulia untuk berkorban saat ini, dan bahwa Anda akan mendapatkan ganjarannya di akhirat?

3. Apakah Anda dibesarkan untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan dan tidak untuk melakukan sesuatu yang berbeda?

4. Apakah Anda pernah iri pada orang yang memiliki baju-baju mahal, mobil mewah, dan rumah megah—yang mungkin telah membuat Anda mengembangkan mentalitas bawah sadar ”membenci orang kaya”?

5. Apakah Anda memiliki hubungan yang stabil, uang yang dapat mencukupi kebutuhan Anda, dan kesehatan yang cukup baik namun Anda merasa bahwa kehidupan Anda hanya begitu-begitu saja?

Dan menurut Vitale:

Jika Anda menjawab ”Ya” untuk tiga atau lebih pertanyaan: Anda tahu bahwa ada yang kurang dalam kehidupan Anda, namun mungkin Anda tidak tahu apa itu.

Kemudian ia memaparkan ke-5 langkahnya dalam menarik kemakmuran yang diinginkan (hal. 65 – 192)

1. Papan Loncat

2. Berani Melakukan yang Berarti

3. Rahasia yang Hilang

4. Me-Nevill-kan Tujuan Anda

5. Rahasia Terpenting


All the posts