24 March 2006
Succes is The Mind Game
Tahun 2006 ditengarai menjadi tahun penuh tantangan bagi banyak orang. Betapa tidak karena perekonomian secara makro masih akan wait and see karena berbagai penyesuaian, khususnya karena tingginya harga minyak. Sementara kondisi mikro perusahaan tentu saja akan terpengaruh.
Diperkirakan akan lebih banyak terjadi pemutusan hubungan kerja (PHK), sehingga kondisi keuangan kebanyakan orang akan kian terpuruk. Sementara bagi pemilik aset dan pemodal kondisinya bisa jadi hanya semakin sedikitnya peluang maupun justru bertambahnya peluang. Seperti kata pepatah Cina: krisis bukan saja berarti ancaman, melainkan juga peluang atau kesempatan. Sisi positif ini sebenarnya berlaku bagi kebanyakan orang meskipun sungguh benar adanya bahwa yang lebih bisa memanfaatkannya adalah mereka yang relatif lebih siap.
Yaitu mereka yang punya modal dan terutama kreativitas menghasilkan nilai tambah, keinginan berinovasi, terus berpikir alternatif dan tak bosan-bosannya mengusangkan diri. Cara paling prinsip adalah dengan terus mengamati, ‘membaca’ dan menyimak berbagai perkembangan yang terjadi.
Perlu digarisbawahi bahwa pengertian membaca tersebut adalah dalam makna paling harfiah hingga yang paling simbolik. Bahwa dalam dunia yang derapnya kini didominasi oleh kecepatan gerak bit-bit informasi, hanya bisa diimbangi tekad selalu mengasah kemampuan ‘membaca’.
Besar kemungkinan membaca ini hanya merupakan awal karena akan diperlukan langkah lanjutan yaitu menganalisis tren, menyimpulkan, membuat rencana serta merumuskan strategi sampai langkah implentasi di lapangan secara rinci untuk mencapai tujuan.
Sisi positif adanya peluang dalam krisis ini disebut berlaku bagi kebanyakan orang karena untungnya semua tantangan dan hambatan itu sesungguhnya hanya permainan persepsi belaka. Singkatnya seseorang bisa tetap termotivasi dalam kondisi apapun. Bahkan saat terancam di-PHK.
Tergantung RI
Praktisi NLP (Neuro Linguistic Programming) mendukung asumsi success is the mind game atau sukses adalah permainan pikiran. Maksudnya apapun yang terjadi dengan realitas eksternal (RE) seseorang, yang lebih penting adalah realitas internalnya (RI). Artinya efektif tidaknya orang itu memahami RE.
“Kalau Anda mau mengubah dunia apa yang dilakukan paling dulu? RI-nya to. Begitu mengubah RI, cara pandang Anda terhadap dunia berubah,” ungkap praktisi NLP Ronny F Ronodirdjo seraya menambahkan ironisnya banyak orang tak menyadari bahwa hampir semua yang dilakukan manusia adalah reaksi terhadap RI.
Pengertian RE adalah apapun yang masuk ke lima indera, baik lewat hidung, mata, telinga, tangan, akan diubah menjadi sinyal listrik (biolistrik) yang selanjutnya akan diberi makna dan ditanggapi oleh otak. Fakta yang ada di luar diri ini disebut realitas eksternal (RE) yang dalam istilah NLP disebut territory.
“Begitu masuk lewat indera, RE diubah menjadi realitas internal (RI) yang dalam psikologi disebut persepsi atau sudut pandang.” ujarnya sambil mencontohkan handphone (HP) usang di tangannya yang menurut orang lain mungkin kuno tapi baginya HP kesayangan yang meski kuno tapi masih enak dipakai.
“Jadi RE-nya sama. Tapi bagaimana kita merepresentasikan realita itu dalam pikiran masing-masing berbeda. Itulah RI yang dalam istilah NLP disebut map atau mental map atau peta pikiran. Jadi saat disebut map is not the territory artinya RI bukan RE. Nah ironisnya psikolog gagal memahami hal ini.”
Kebanyakan penderita sakit jiwa, kata dia, adalah orang-orang yang selalu mengira RI-nya adalah RE. “Orang sehat seperti kita kadang sadar kadang enggak, tapi kecenderungannya adalah RE dikira RI. Kalau orang sukses adalah orang yang bisa memilih RI.”
Ronny menambahkan, psikolog hampir selalu mengira manusia itu bereaksi terhadap RE, sehingga blaming-nya pasti di luar. Orang gagal, karena situasinya tidak memungkinkan. Situasi itu letaknya di RE, ada di luar. “Tapi ironisnya ada orang lain yang menjadikan itu sebagai pendorong keberhasilan.”
Bisa di-install dan diakses
Sikap mental yang bisa memilih RI tersebut jelas akan lebih mendukung kesuksesan di segala bidang. Hal ini tak lepas dari fakta bahwa bagi otak tak penting apakah hal yang dipikirkannya sekadar khayalan ataupun memang sungguh-sungguh kenyataan. Otak tak membedakan keduanya.
Tak peduli apakah itu hanya bayangan atau memang kenyataan, otak, ajaibnya, akan menganggapnya sebagai satu hal yang perlu mendapatkan perhatian. Hal yang selanjutnya dianggap penting yang kemudian dicarikan cara implementasinya sesuai dengan kondisi yang dibayangkan.
Bila imajinasi tentang bagaimana meraih sukses itu bisa dilakukan secara rinci tahap demi tahap setiap saat, termasuk berbagai emosi yang menyertainya, hampir secara otomatis kondisi ini akan menyertai setiap tindakan yang dilakukan. Dengan begitu, orang pun akan bisa benar-benar meraih sukses.
“Contoh kongkritnya, bila dalam hidup Anda pernah sangat percaya diri (pede). Terus Anda diminta presentasi di depan BOD itu tidak pede. Saya bisa membantu mengambil pede Anda saat sangat percaya diri itu, saya bawa dan di-install di waktu lain di saat mau presentasi itu Anda bisa mengakses lagi pede tadi. Itu me-modelling diri sendiri. bahwa imajinasi ini bisa di-install dan diakses lagi.”
Jadi, tandas Ronny, dalam NLP intinya Anda belajar menguasai pengalaman subjektif sehingga menjadi efektif dalam melihat dunia. Pikiran juga lebih efektif karena Anda menjadi master atau tuan atasnya. Modelling itu meniru, mengambil esensi exellency atau keunggulan orang atau diri sendiri agar bisa direplikasi di waktu dan tempat berbeda.
Namun pentingnya peran RI agak berbeda dengan hasil penelitian tentang bagaimana orang bisa tetap santai di bawah tekanan. Penelitian beberapa tahun lalu menunjukkan bahwa mereka yang bisa santai bukan mengantisipasi bagaimana bila situasi membaik melainkan bagaimana bila memburuk.
Pemikiran pengandaian ini adalah fakta tandingan (counterfactuals), suatu peristiwa yang tidak terjadi tapi dapat dengan mudah dibayangkan sebagai kejadian nyata. "Saat dalam semangat tinggi, kita ingin mempertahankan suasana hati itu (mood)."
Tandingan Lebih Buruk
Hal ini diungkapkan Lawrence Senna profesor psikologi pada Washington State University. Saat berpikir tentang masa lalu, tambahnya, orang secara otomatis berupaya mengatasi kecenderungan hilang semangat seperti "Paling tidak aku tidak mempermalukan diri sendiri."
Bila pikiran jelek ini tetap muncul, lanjut Senna, orang berupaya mengatasinya buruknya suasana hati dengan memunculkan fakta tandingan yang positif seperti "Sebaiknya aku ucapkan terima kasih."
Namun penelitian terbaru Senna menunjukkan bahwa orang dengan keyakinan diri (self-esteem) tinggi mengatasi masalah (cope) dengan lebih baik terhadap situasi negatif dengan secara instingtif menggunakan fakta tandingan yang memburuk.
"Hal ini tampaknya dilakukan untuk menciptakan gambaran cerah dari masa lalu," kata Senna yang mengadakan penelitian bersama timnya menggunakan klip musik dan film untuk memicu munculnya suasana hati baik dan buruk pada subyek.
Setelah klip ditayangkan, subyek diminta untuk mengingat kembali sebuah peristiwa masa lalu dan sepakat untuk melakukan fakta tandingan ke arah lebih baik atau lebih buruk menyangkut bagaimanan keduanya bisa punya akibat berbeda.
Orang yang suasana hatinya sedang bagus sering memberikan tanggapan dengan fakta tandingan yang mengarah ke hal lebih buruk. Sedangkan yang mood-nya sedang buruk, tambahnya, setidaknya bereaksi dalam dua cara.
"Bila orang orang dengan keyakinan rendah setuju untuk secepat mungkin dan hampir selalu dengan pernyataan yang memperburuk, subyek dengan keyakinan diri tinggi memilih pernyataan yang bisa meningkatkan mood-nya, tapi secara perlahan."
Hal ini, tandas Senna, memperlihatkan bahwa subyek yang yakin secara sadar mencoba untuk memindah dari fakta tandingan positif ke negatif untuk menggugah perasaan negatifnya."
Dengan itu, lanjutnya, mereka makin menyukai kondisi dirinya sendiri. Pada akhirnya, kata dia, orang semacam ini menjadi lebih terdorong untuk mencoba dan bisa terus menjaga suasana hatinya agar tetap positif.
Diperkirakan akan lebih banyak terjadi pemutusan hubungan kerja (PHK), sehingga kondisi keuangan kebanyakan orang akan kian terpuruk. Sementara bagi pemilik aset dan pemodal kondisinya bisa jadi hanya semakin sedikitnya peluang maupun justru bertambahnya peluang. Seperti kata pepatah Cina: krisis bukan saja berarti ancaman, melainkan juga peluang atau kesempatan. Sisi positif ini sebenarnya berlaku bagi kebanyakan orang meskipun sungguh benar adanya bahwa yang lebih bisa memanfaatkannya adalah mereka yang relatif lebih siap.
Yaitu mereka yang punya modal dan terutama kreativitas menghasilkan nilai tambah, keinginan berinovasi, terus berpikir alternatif dan tak bosan-bosannya mengusangkan diri. Cara paling prinsip adalah dengan terus mengamati, ‘membaca’ dan menyimak berbagai perkembangan yang terjadi.
Perlu digarisbawahi bahwa pengertian membaca tersebut adalah dalam makna paling harfiah hingga yang paling simbolik. Bahwa dalam dunia yang derapnya kini didominasi oleh kecepatan gerak bit-bit informasi, hanya bisa diimbangi tekad selalu mengasah kemampuan ‘membaca’.
Besar kemungkinan membaca ini hanya merupakan awal karena akan diperlukan langkah lanjutan yaitu menganalisis tren, menyimpulkan, membuat rencana serta merumuskan strategi sampai langkah implentasi di lapangan secara rinci untuk mencapai tujuan.
Sisi positif adanya peluang dalam krisis ini disebut berlaku bagi kebanyakan orang karena untungnya semua tantangan dan hambatan itu sesungguhnya hanya permainan persepsi belaka. Singkatnya seseorang bisa tetap termotivasi dalam kondisi apapun. Bahkan saat terancam di-PHK.
Tergantung RI
Praktisi NLP (Neuro Linguistic Programming) mendukung asumsi success is the mind game atau sukses adalah permainan pikiran. Maksudnya apapun yang terjadi dengan realitas eksternal (RE) seseorang, yang lebih penting adalah realitas internalnya (RI). Artinya efektif tidaknya orang itu memahami RE.
“Kalau Anda mau mengubah dunia apa yang dilakukan paling dulu? RI-nya to. Begitu mengubah RI, cara pandang Anda terhadap dunia berubah,” ungkap praktisi NLP Ronny F Ronodirdjo seraya menambahkan ironisnya banyak orang tak menyadari bahwa hampir semua yang dilakukan manusia adalah reaksi terhadap RI.
Pengertian RE adalah apapun yang masuk ke lima indera, baik lewat hidung, mata, telinga, tangan, akan diubah menjadi sinyal listrik (biolistrik) yang selanjutnya akan diberi makna dan ditanggapi oleh otak. Fakta yang ada di luar diri ini disebut realitas eksternal (RE) yang dalam istilah NLP disebut territory.
“Begitu masuk lewat indera, RE diubah menjadi realitas internal (RI) yang dalam psikologi disebut persepsi atau sudut pandang.” ujarnya sambil mencontohkan handphone (HP) usang di tangannya yang menurut orang lain mungkin kuno tapi baginya HP kesayangan yang meski kuno tapi masih enak dipakai.
“Jadi RE-nya sama. Tapi bagaimana kita merepresentasikan realita itu dalam pikiran masing-masing berbeda. Itulah RI yang dalam istilah NLP disebut map atau mental map atau peta pikiran. Jadi saat disebut map is not the territory artinya RI bukan RE. Nah ironisnya psikolog gagal memahami hal ini.”
Kebanyakan penderita sakit jiwa, kata dia, adalah orang-orang yang selalu mengira RI-nya adalah RE. “Orang sehat seperti kita kadang sadar kadang enggak, tapi kecenderungannya adalah RE dikira RI. Kalau orang sukses adalah orang yang bisa memilih RI.”
Ronny menambahkan, psikolog hampir selalu mengira manusia itu bereaksi terhadap RE, sehingga blaming-nya pasti di luar. Orang gagal, karena situasinya tidak memungkinkan. Situasi itu letaknya di RE, ada di luar. “Tapi ironisnya ada orang lain yang menjadikan itu sebagai pendorong keberhasilan.”
Bisa di-install dan diakses
Sikap mental yang bisa memilih RI tersebut jelas akan lebih mendukung kesuksesan di segala bidang. Hal ini tak lepas dari fakta bahwa bagi otak tak penting apakah hal yang dipikirkannya sekadar khayalan ataupun memang sungguh-sungguh kenyataan. Otak tak membedakan keduanya.
Tak peduli apakah itu hanya bayangan atau memang kenyataan, otak, ajaibnya, akan menganggapnya sebagai satu hal yang perlu mendapatkan perhatian. Hal yang selanjutnya dianggap penting yang kemudian dicarikan cara implementasinya sesuai dengan kondisi yang dibayangkan.
Bila imajinasi tentang bagaimana meraih sukses itu bisa dilakukan secara rinci tahap demi tahap setiap saat, termasuk berbagai emosi yang menyertainya, hampir secara otomatis kondisi ini akan menyertai setiap tindakan yang dilakukan. Dengan begitu, orang pun akan bisa benar-benar meraih sukses.
“Contoh kongkritnya, bila dalam hidup Anda pernah sangat percaya diri (pede). Terus Anda diminta presentasi di depan BOD itu tidak pede. Saya bisa membantu mengambil pede Anda saat sangat percaya diri itu, saya bawa dan di-install di waktu lain di saat mau presentasi itu Anda bisa mengakses lagi pede tadi. Itu me-modelling diri sendiri. bahwa imajinasi ini bisa di-install dan diakses lagi.”
Jadi, tandas Ronny, dalam NLP intinya Anda belajar menguasai pengalaman subjektif sehingga menjadi efektif dalam melihat dunia. Pikiran juga lebih efektif karena Anda menjadi master atau tuan atasnya. Modelling itu meniru, mengambil esensi exellency atau keunggulan orang atau diri sendiri agar bisa direplikasi di waktu dan tempat berbeda.
Namun pentingnya peran RI agak berbeda dengan hasil penelitian tentang bagaimana orang bisa tetap santai di bawah tekanan. Penelitian beberapa tahun lalu menunjukkan bahwa mereka yang bisa santai bukan mengantisipasi bagaimana bila situasi membaik melainkan bagaimana bila memburuk.
Pemikiran pengandaian ini adalah fakta tandingan (counterfactuals), suatu peristiwa yang tidak terjadi tapi dapat dengan mudah dibayangkan sebagai kejadian nyata. "Saat dalam semangat tinggi, kita ingin mempertahankan suasana hati itu (mood)."
Tandingan Lebih Buruk
Hal ini diungkapkan Lawrence Senna profesor psikologi pada Washington State University. Saat berpikir tentang masa lalu, tambahnya, orang secara otomatis berupaya mengatasi kecenderungan hilang semangat seperti "Paling tidak aku tidak mempermalukan diri sendiri."
Bila pikiran jelek ini tetap muncul, lanjut Senna, orang berupaya mengatasinya buruknya suasana hati dengan memunculkan fakta tandingan yang positif seperti "Sebaiknya aku ucapkan terima kasih."
Namun penelitian terbaru Senna menunjukkan bahwa orang dengan keyakinan diri (self-esteem) tinggi mengatasi masalah (cope) dengan lebih baik terhadap situasi negatif dengan secara instingtif menggunakan fakta tandingan yang memburuk.
"Hal ini tampaknya dilakukan untuk menciptakan gambaran cerah dari masa lalu," kata Senna yang mengadakan penelitian bersama timnya menggunakan klip musik dan film untuk memicu munculnya suasana hati baik dan buruk pada subyek.
Setelah klip ditayangkan, subyek diminta untuk mengingat kembali sebuah peristiwa masa lalu dan sepakat untuk melakukan fakta tandingan ke arah lebih baik atau lebih buruk menyangkut bagaimanan keduanya bisa punya akibat berbeda.
Orang yang suasana hatinya sedang bagus sering memberikan tanggapan dengan fakta tandingan yang mengarah ke hal lebih buruk. Sedangkan yang mood-nya sedang buruk, tambahnya, setidaknya bereaksi dalam dua cara.
"Bila orang orang dengan keyakinan rendah setuju untuk secepat mungkin dan hampir selalu dengan pernyataan yang memperburuk, subyek dengan keyakinan diri tinggi memilih pernyataan yang bisa meningkatkan mood-nya, tapi secara perlahan."
Hal ini, tandas Senna, memperlihatkan bahwa subyek yang yakin secara sadar mencoba untuk memindah dari fakta tandingan positif ke negatif untuk menggugah perasaan negatifnya."
Dengan itu, lanjutnya, mereka makin menyukai kondisi dirinya sendiri. Pada akhirnya, kata dia, orang semacam ini menjadi lebih terdorong untuk mencoba dan bisa terus menjaga suasana hatinya agar tetap positif.
* Rab A.B. penulis dan editor dengan pengalaman lebih dari 10 tahun. Kini ia adalah anggota dewan redaksi pada majalah bulanan Indonesian Tax Review Digest dan Buletin Bee Parent yang diterbitkan Lembaga Manajemen Formasi. Ia dapat dihubungi melalui e-mail: nauram@yahoo.com.
10:42 Posted in Enterpreuner | Permalink | Comments (0) | Email this



The comments are closed.