23 March 2006
Eropa dan Kekhawatiran Pada Para Mualaf
http://www.republika.co.id
Para mualaf di Barat kini diawasi secara ketat. Tudingan membantu terorisme membatasi ruang gerak mereka. Masyarakat Barat terus saja dicekam ketakutan. Islamophobia dan kekhawatiran terhadap serangan teroris radikal tak kunjung surut bahkan makin membesar. Kini, mereka seolah menambah lagi satu musuh baru, orang-orang Barat yang beralih ke Islam. Surat kabar Amerika Serikat, The New York Times, mengangkat besar-besar tulisan tentang mualaf 'berbahaya' itu dalam laporan utamanya. Mereka mengawali ceritanya dari kisah Courtailler bersaudara tumbuh besar di sebuah desa yang terletak di lereng pegunungan Alpine.
Dua tokoh berita, David dan Jerome Courtailler, adalah putra dari seorang tukang daging yang bangkrut. Frsutrasi menyeret siswa drop out sekolah Katolik ini dalam dunia kenakalan remaja. Alkohol dan narkotika menjadi teman akrab, sampai mereka bertemu Islam. Namun setelah lima tahun dua bersaudara ini memutuskan memeluk agama Islam di sebuah masjid di Inggris, tepatnya di kota Brighton, tahun 1996, mereka harus menerima kenyataan mendapat tuduhan terkait jaringan terorisme Islam di Eropa. Kini, David yang berusia 28 tahun, sudah meringkuk di tahanan. Demikian pula Jerome, 29, ditahan pihak kepolisian Belanda sehari setelah keluar dakwaan resmi dari pengadilan bahwa dirinya adalah anggota jaringan teroris internasional. Kedua bersaudara itu merupakan bagian dari kelompok-kelompok yang telah menemukan syiar Islam di Eropa.
Dan kini, mereka, para mualat kulit putih itu, harus dihadapkan pada tuduhan tanpa bukti bahwa mereka 'menjadi bibit-bibit baru jaringan terorisme internasional'. Koran NYT menulis bagaimana para pejabat-pejabat di banyak negara Eropa, khususnya mereka yang menangani langsung kegiatan kontra teroris, menjadi risau. Pasalnya, 'anggota baru' itu akan sangat sulit dideteksi serta diawasi. Akibatnya, para mualaf ini sekarang diawasi ketat karena kekhawatirkan menjadi bagian kelompok ekstrimis. Untuk upaya pencegahan dini, banyak di antara para mualaf Eropa tersebut terpaksa ditangkap dengan tuduhan terorisme. Ini mengingat pengalaman dan kemampuan mereka, seperti ditakutkan pihak berwenang, dapat menimbulkan masalah yang lebih besar.
"Mereka yang baru pindah agama ini berpotensi dimanfaatkan oleh kalangan jihad," seru Jean-Luc Marret, ahli terorisme dari Strategic Research Foundation, di Paris. "Sejak dulu kelompok tersebut sudah diperbantukan untuk mendukung penyediaan logistik dan sebagainya, namun kini telah berkembang dalam skala yang lebih luas." Harus diakui, Islam adalah agama yang paling cepat perkembangannya di Eropa. Meski belum ada data konkret, akan tetapi para ahli memperkirakan jumlah masyarakat Eropa yang pindah agama dan menjadi Muslim meningkat pesat sejak peristiwa 11 September 2001. Laporan dari badan intelejen dalam negeri Perancis yang diterbitkan oleh harian Le Figaro, memperkirakan tahun lalu ada sekitar 30 ribu hingga 50 ribu mualaf baru di Perancis.
Menariknya, peningkatan tersebut justru dipicu oleh maraknya kampanye anti teroris. Antoine Sfeir, seorang sarjana asal Perancis yang menulis sebuah buku mengenai fenomena tersebut, memberikan penjelaskan. Sebagian kecil mereka yang pindah agama, terdiri dari kaum muda, yang malah melihat gelombang terorisme Islam ini sebagai "bentuk perjuangan melawan kaum berada dan penguasa oleh pihak tertindas di planet ini." Dia membenarkan sebagian kecil dari orang-orang yang beralih ke Islam ini kemudian bersimpati terhadap gerakan terorisme dan bahkan turut serta mendukung aktivitas kekerasan.
Pihaknya mengklaim sudah menemukan sejumlah kelompok mualaf militan hingga kini. Meski hanya sejumlah kecil dari mereka yang diindikasikan terkait dengan aktivitas terorisme, namun pihak kepolisian tetap memandang serius serta menilainya sebagai ancaman potensial. "Individu-individu dengan mental dan jiwa bermasalah yang lantas beralih ke Islam sangat rentan masuk dan terlibat pada jaringan teror," demikian bunyi laporan intelejen itu seraya menambahkan kelompok radikal sengaja merekrut para mualaf karena mereka dapat melintas perbatasan negara dengan mudah, menyewa kamar hotel, dan penginapan serta kemudahan guna penyediaan kebutuhan logistik.
Tak hanya terjadi di Eropa
Seperti dikutip dari harian NYT edisi 19 Juli 2004, fenomena kecurigaan terhadap mualaf juga terjadi di belahan dunia lainnya. Seorang supir taksi di Australia kelahiran Inggris, Jack Roche, yang pindah agama ke Islam, dilaporkan pernah dilatih di Afganistan dan kembali ke Australia untuk selanjutnya dipenjara selama sembilan tahun karena percobaan pemboman kedutaan Israel di Canberra. Hal serupa di Amerika Serikat ketika Jose Padilla ditahan oleh pihak berwajib di sana dengan tuduhan merencanakan aksi terorisme. Dia memeluk Islam sejak tahun 1992 ketika dipenjarakan di Florida.
David dan J‚r“me Courtailler, dua bersaudara asal Perancis tadi, dapat bepergian secara bebas ke negara-negara Uni Eropa dengan tidak terlalu menarik perhatian aparat keamanan, tidak seperti halnya pengawasan ketat yang kerap dilakukan terhadap pemuda asal Timur-Tengah dan Afrika Utara. Pada sebuah kesempatan wawancara, seorang pejabat senior di dinas anti teror Perancis mengatakan para mualaf militan ini beralih ke Islam dengan berbagai macam cara. Namun kebanyakan adalah akibat kontak dan hubungan erat dengan kaum militan Muslim di penjara-penjara Eropa, dimana populasi tahanan Muslim memang meningkat.
Seperti misalnya Richard Reid, yang kemudian dikenal sebagai 'pembom sepatu dari Inggris', menjadi mualaf juga ketika dia dipenjara. Sekedar informasi, populasi penghuni penjara di Perancis saat ini terdiri dari 50 persen umat Muslim. Pintu masuk lain menuju Islam adalah melalui kelompok Jamaah Tabligh, yang dibentuk di India sekitar 75 tahun lalu untuk memperkenalkan agama Islam di tengah masyarakat mayoritas Hindu. Banyak kalangan di Eropa menilai Jamaah Tabligh tersebut telah berkembang menjadi jaringan yang memiliki pengikut baru terbesar di dunia. Menurut harian tersebut, Jamaah Tabligh juga seringkali mengirimkan sejumlah mualaf untuk mendalami pendidikan agama ke Arab Saudi atau Pakistan.
Beberapa alumni Jamaah Tabligh asal Barat yang terkenal, termasuk di antaranya John Walker Lindh, seorang warga Amerika yang ditangkap ketika berperang bersama pasukan Taliban di Afganistan tahun 2002 lalu. Pengaruh dari keluarga juga berperan cukup besar untuk menarik mereka beralih menjadi Muslim. Terutama di Perancis, dimana pernikahan beda agama antara penganut Kristen dan Islam dikabarkan meningkat secara signifikan, atau akibat pengaruh lingkungan tempat tinggal yang didominasi komunitas pemeluk Muslim. Benarkah apa yang dituduhkan mereka? Muhammad Ghaffari, pakar lingkungan yang juga aktivis Islamic Center of Tallahassee menyatakan, tuduhan itu makin memojokkan posisi Muslim dan mualaf khususnya.
Tensi kebencian terhadap Muslim sejak NYT menurunkan tulisan itu, meningkat kembali. ''Padahal, jangan hanya karena kaum militan salah, maka seluruh umat Islam dinayatakan salah,'' ujarnya. Ia menyayangkan munculnya tudingan-tudingan semacam itu dan mengkahawatirkan bakal bertambahnya angka kekerasan terhadap kaum Muslim. Data The Council on American-Islamic Relations, sebuah lembaga perlindungan HAM, menyebut, sepanjang tahun 2003 terjadi lebih dari 1.000 insiden yang berpangkal pada sentimen agama. Angka ini meningkat hampir 50 persen, dari 600 kasus yang dilaporkan pada tahun 2002. ( yus\iol\newyorktimes )
Dua tokoh berita, David dan Jerome Courtailler, adalah putra dari seorang tukang daging yang bangkrut. Frsutrasi menyeret siswa drop out sekolah Katolik ini dalam dunia kenakalan remaja. Alkohol dan narkotika menjadi teman akrab, sampai mereka bertemu Islam. Namun setelah lima tahun dua bersaudara ini memutuskan memeluk agama Islam di sebuah masjid di Inggris, tepatnya di kota Brighton, tahun 1996, mereka harus menerima kenyataan mendapat tuduhan terkait jaringan terorisme Islam di Eropa. Kini, David yang berusia 28 tahun, sudah meringkuk di tahanan. Demikian pula Jerome, 29, ditahan pihak kepolisian Belanda sehari setelah keluar dakwaan resmi dari pengadilan bahwa dirinya adalah anggota jaringan teroris internasional. Kedua bersaudara itu merupakan bagian dari kelompok-kelompok yang telah menemukan syiar Islam di Eropa.
Dan kini, mereka, para mualat kulit putih itu, harus dihadapkan pada tuduhan tanpa bukti bahwa mereka 'menjadi bibit-bibit baru jaringan terorisme internasional'. Koran NYT menulis bagaimana para pejabat-pejabat di banyak negara Eropa, khususnya mereka yang menangani langsung kegiatan kontra teroris, menjadi risau. Pasalnya, 'anggota baru' itu akan sangat sulit dideteksi serta diawasi. Akibatnya, para mualaf ini sekarang diawasi ketat karena kekhawatirkan menjadi bagian kelompok ekstrimis. Untuk upaya pencegahan dini, banyak di antara para mualaf Eropa tersebut terpaksa ditangkap dengan tuduhan terorisme. Ini mengingat pengalaman dan kemampuan mereka, seperti ditakutkan pihak berwenang, dapat menimbulkan masalah yang lebih besar.
"Mereka yang baru pindah agama ini berpotensi dimanfaatkan oleh kalangan jihad," seru Jean-Luc Marret, ahli terorisme dari Strategic Research Foundation, di Paris. "Sejak dulu kelompok tersebut sudah diperbantukan untuk mendukung penyediaan logistik dan sebagainya, namun kini telah berkembang dalam skala yang lebih luas." Harus diakui, Islam adalah agama yang paling cepat perkembangannya di Eropa. Meski belum ada data konkret, akan tetapi para ahli memperkirakan jumlah masyarakat Eropa yang pindah agama dan menjadi Muslim meningkat pesat sejak peristiwa 11 September 2001. Laporan dari badan intelejen dalam negeri Perancis yang diterbitkan oleh harian Le Figaro, memperkirakan tahun lalu ada sekitar 30 ribu hingga 50 ribu mualaf baru di Perancis.
Menariknya, peningkatan tersebut justru dipicu oleh maraknya kampanye anti teroris. Antoine Sfeir, seorang sarjana asal Perancis yang menulis sebuah buku mengenai fenomena tersebut, memberikan penjelaskan. Sebagian kecil mereka yang pindah agama, terdiri dari kaum muda, yang malah melihat gelombang terorisme Islam ini sebagai "bentuk perjuangan melawan kaum berada dan penguasa oleh pihak tertindas di planet ini." Dia membenarkan sebagian kecil dari orang-orang yang beralih ke Islam ini kemudian bersimpati terhadap gerakan terorisme dan bahkan turut serta mendukung aktivitas kekerasan.
Pihaknya mengklaim sudah menemukan sejumlah kelompok mualaf militan hingga kini. Meski hanya sejumlah kecil dari mereka yang diindikasikan terkait dengan aktivitas terorisme, namun pihak kepolisian tetap memandang serius serta menilainya sebagai ancaman potensial. "Individu-individu dengan mental dan jiwa bermasalah yang lantas beralih ke Islam sangat rentan masuk dan terlibat pada jaringan teror," demikian bunyi laporan intelejen itu seraya menambahkan kelompok radikal sengaja merekrut para mualaf karena mereka dapat melintas perbatasan negara dengan mudah, menyewa kamar hotel, dan penginapan serta kemudahan guna penyediaan kebutuhan logistik.
Tak hanya terjadi di Eropa
Seperti dikutip dari harian NYT edisi 19 Juli 2004, fenomena kecurigaan terhadap mualaf juga terjadi di belahan dunia lainnya. Seorang supir taksi di Australia kelahiran Inggris, Jack Roche, yang pindah agama ke Islam, dilaporkan pernah dilatih di Afganistan dan kembali ke Australia untuk selanjutnya dipenjara selama sembilan tahun karena percobaan pemboman kedutaan Israel di Canberra. Hal serupa di Amerika Serikat ketika Jose Padilla ditahan oleh pihak berwajib di sana dengan tuduhan merencanakan aksi terorisme. Dia memeluk Islam sejak tahun 1992 ketika dipenjarakan di Florida.
David dan J‚r“me Courtailler, dua bersaudara asal Perancis tadi, dapat bepergian secara bebas ke negara-negara Uni Eropa dengan tidak terlalu menarik perhatian aparat keamanan, tidak seperti halnya pengawasan ketat yang kerap dilakukan terhadap pemuda asal Timur-Tengah dan Afrika Utara. Pada sebuah kesempatan wawancara, seorang pejabat senior di dinas anti teror Perancis mengatakan para mualaf militan ini beralih ke Islam dengan berbagai macam cara. Namun kebanyakan adalah akibat kontak dan hubungan erat dengan kaum militan Muslim di penjara-penjara Eropa, dimana populasi tahanan Muslim memang meningkat.
Seperti misalnya Richard Reid, yang kemudian dikenal sebagai 'pembom sepatu dari Inggris', menjadi mualaf juga ketika dia dipenjara. Sekedar informasi, populasi penghuni penjara di Perancis saat ini terdiri dari 50 persen umat Muslim. Pintu masuk lain menuju Islam adalah melalui kelompok Jamaah Tabligh, yang dibentuk di India sekitar 75 tahun lalu untuk memperkenalkan agama Islam di tengah masyarakat mayoritas Hindu. Banyak kalangan di Eropa menilai Jamaah Tabligh tersebut telah berkembang menjadi jaringan yang memiliki pengikut baru terbesar di dunia. Menurut harian tersebut, Jamaah Tabligh juga seringkali mengirimkan sejumlah mualaf untuk mendalami pendidikan agama ke Arab Saudi atau Pakistan.
Beberapa alumni Jamaah Tabligh asal Barat yang terkenal, termasuk di antaranya John Walker Lindh, seorang warga Amerika yang ditangkap ketika berperang bersama pasukan Taliban di Afganistan tahun 2002 lalu. Pengaruh dari keluarga juga berperan cukup besar untuk menarik mereka beralih menjadi Muslim. Terutama di Perancis, dimana pernikahan beda agama antara penganut Kristen dan Islam dikabarkan meningkat secara signifikan, atau akibat pengaruh lingkungan tempat tinggal yang didominasi komunitas pemeluk Muslim. Benarkah apa yang dituduhkan mereka? Muhammad Ghaffari, pakar lingkungan yang juga aktivis Islamic Center of Tallahassee menyatakan, tuduhan itu makin memojokkan posisi Muslim dan mualaf khususnya.
Tensi kebencian terhadap Muslim sejak NYT menurunkan tulisan itu, meningkat kembali. ''Padahal, jangan hanya karena kaum militan salah, maka seluruh umat Islam dinayatakan salah,'' ujarnya. Ia menyayangkan munculnya tudingan-tudingan semacam itu dan mengkahawatirkan bakal bertambahnya angka kekerasan terhadap kaum Muslim. Data The Council on American-Islamic Relations, sebuah lembaga perlindungan HAM, menyebut, sepanjang tahun 2003 terjadi lebih dari 1.000 insiden yang berpangkal pada sentimen agama. Angka ini meningkat hampir 50 persen, dari 600 kasus yang dilaporkan pada tahun 2002. ( yus\iol\newyorktimes )
14:25 Posted in Alam Islami | Permalink | Comments (0) | Email this



The comments are closed.