23 March 2006

Bandung Lautan Belanja

Bandung, siapa yang tak kenal dengan jantung Jawa Barat ini. Sejak Gubernur Jenderal Hindia Belanda Herman Willem Daendels menancapkan tongkatnya di pinggir Sungai Cikapundung, Kota Bandung dikenal sebagai tempat peristirahatan. Para petinggi di Nusantara kala itu kerap menghabiskan waktu di kawasan berudara sejuk ini. Bahkan, Parijs van Java atau Paris-nya Pulau Jawa melekat di kota yang berulang tahun pada 25 September itu.

Jika Daendels kembali kini, ia pasti kagum. Cita-citanya untuk membangun sebuah kota sudah terwujud. Lokasi di mana tongkatnya menancap pada 1810, kini menjadi titik pusat atau Kilometer 0 Kota Bandung, tepat di seberang Alun-alun Kota. Wilayah seluas 16.767 hektare ini bahkan menjadi salah satu kota terbesar di Indonesia.

Mulut Daendels pasti kembali menganga. Betapa tidak, Bandung berkembang sangat pesat meski pernah dibumihanguskan pada 24 Maret 1946. Tak hanya itu, landmark kota yakni Gedung Sate atau Gouverments Bedrijven kini tak sendiri. Jembatan Pasupati yang menghubungkan Bandung Utara dan Timur melewati lembah Cikapundung ikut menjadi kebanggaan warga Kota Kembang.

Dunia wisata pun tak kalah bergeliat. Selain menyuguhkan keindahan alam, Bandung menawarkan wisata belanja yang tak bisa dijumpai di kota lain di Tanah Air. Apalagi buat pencinta dunia fashion. Beragam busana dengan tren mutakhir bisa didapat di berbagai factory outlet (FO) yang menjamur di pelosok Bandung. Selain itu, harga yang ditawarkan pun cukup menggiurkan. Maklum, barang yang ditawarkan diklaim langsung dikirim dari pabrik.

Saat ini tak kurang 200 FO berdiri di Kota Bandung. Uniknya, FO-FO ini memberikan pelayanan dengan tema yang beragam. Ada FO yang khusus membidik konsumen remaja, anak-anak, termasuk FO khusus lelaki atau pakaian dalam. Sebagian besar, toko pakaian ini berada di kawasan Bandung Tengah, yakni Jalan R.E. Martadinata, Jalan Aceh, dan Jalan Sumatera. Tempat sejenis bisa ditemui dengan mudah di kawasan Bandung Utara seperti Jalan Ir. H. Juanda (Dago) dan Jalan Dr. Setiabudhi.

Berbelanja di FO jelas berbeda dibanding membeli di toko-toko pakaian biasa. Selain murah, model pakaian yang ditawarkan sangat terbatas. Jadi kecil kemungkinan ada orang yang memakai pakaian serupa alias tak bakal pasaran. Suasana FO yang menyenangkan pun bisa menjadi penawar ketegangan urat syaraf setelah seharian beraktivitas.

Tak hanya di FO, pakaian murah tapi keren juga bisa ditemukan di Cimol. Pasar kaki lima ini menawarkan berbagai jenis pakaian sisa ekspor mulai dari kaos, celana jins, hingga jaket. Harganya jangan ditanya. Sepotong celana blue jeans bisa dibawa pulang hanya dengan membayar Rp 5 ribu sampai Rp 10 ribu. Tentu saja setelah adu tawar yang cukup seru.

Sesuai namanya, Cimol atau Cibadak Mol--plesetan dari mall--semula berada di Jalan Cibadak, tak jauh dari Alun-alun Kota. Namun, kawasan tersebut ditertibkan Pemerintah Kota Bandung. Cimol dipindah ke kawasan Kebon Kalapa. Cimol kembali digeser ke kawasan Tegallega sebelum akhirnya direlokasi ke Gedebage.

Tak hanya pakaian, jajan makanan khas Bandung sangat sayang dilewatkan. Gurihnya siomay hingga baso tahu goreng (batagor) wajib mampir di lidah jika berkunjung ke Bandung. Kesegaran yoghurt pun bisa dinikmati sambil menghirup kesegaran udara Lembang. Jagung bakar pun siap menemani wisatawan melewati malam yang indah di Kota Bandung.

Pakaian dengan mode terkini ada di tangan. Perut pun sudah terisi. Oleh-oleh penganan juga berjibun. Pengalaman di Bandung yang eksentrik menjadi kenangan tak terlupakan. Daendels pun mungkin tersenyum saat melaju di Tol Cipularang meninggalkan Kota Bandung kembali ke Batavia yang kini bisa ditempuh hanya dalam 2,5 jam

The comments are closed.